Demi Kecerdasan Bangsa
Platform Pendidikan Indonesia
Jalan Pintu Air No. 6
Tangerang 15121
Phone: 087771975803
[email protected]
Pendidikan Moral Preman
Ali Mustafa Yaqub
Ketika diberitakan para pelajar melakukan tawuran sampai menimbulkan korban jiwa, seorang kawan berkomentar: ”Klop! Yang tua jadi intelektual maling, yang muda jadi pelajar preman.”
Sejak Januari hingga September 2012, tawuran pelajar di negeri kita telah menelan korban 21 jiwa. Ini artinya rata-rata setiap bulan minimal ada dua korban dalam tawuran pelajar.
Kendati kita berharap fenomena tawuran pelajar itu hanyalah ”setitik nila yang merusak susu sebelanga”, tampaknya para penanggung jawab pendidikan di negeri ini perlu mencari sebab, apa yang salah dalam pendidikan kita? Ibarat membuat roti berbahan baku terigu, apabila hasilnya ternyata bakwan mungkin ada yang salah dalam jenis bahan tambahan dan atau cara pengolahannya.
Jika tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan anak bangsa yang berbudi luhur, berakhlak mulia, dan bertakwa kepada Tuhan, tetapi hasilnya adalah lahirnya generasi yang cerdas tetapi bermoral preman, maka tentu ada yang salah dalam pendidikan kita. Bahan bakunya sudah jelas, yaitu para pelajar. Bahan tambahan dan cara pengolahannya mungkin perlu ditinjau ulang.
Bila tujuan pendidikan kita seperti disebut di atas, bahan tambahannya tentu pendidikan moral agama karena agama tak pernah mengajarkan premanisme. Namun, tampaknya bahan tambahan yang diajarkan bukan pendidikan moral agama. Boleh jadi pendidikan moral preman. Sebab, hasilnya adalah generasi yang cerdas, tetapi bermoral preman dengan budaya tawuran dan bunuh-bunuhan.
Akui Kesalahan Kita
Seyogianya kita berani mengakui ada yang salah dalam pendidikan kita. Dengan keberanian mengakui kesalahan itu maka kita dapat melakukan perbaikan. Sejauh ini kita tidak pernah dan semoga tak akan pernah, mendengar adanya tawuran dan bunuh-bunuhan antarpelajar dari sekolah yang berbasis agama. Kendati begitu, kita perlu waspada adanya upaya pembusukan sekolah berbasis agama.
Perbedaan pendidikan antara sekolah berbasis agama dan yang tak berbasis agama terletak pada bahan tambahan dan cara pengolahannya. Sekolah yang berbasis agama telah melahirkan generasi cerdas dan berakhlak mulia, kendati hal itu belum sempurna dan masih banyak kekurangan,
Premanisme pelajar dengan budaya tawuran dan bunuh-bunuhan tidak pernah dikenal di sekolah berbasis agama. Sementara bahan baku untuk semua jenis sekolah sama: peserta didik alias pelajar. Maka, untuk melahirkan generasi bangsa sesuai tujuan pendidikan yang diamanatkan UU Sistem Pendidikan Nasional, kita perlu mengubah bahan tambahan dan cara mengolahnya dengan pendidikan moral agama dan akhlak mulia.
Kendati begitu, belum ada jaminan pasti apabila bahan tambahan itu diubah akan melahirkan generasi cerdas dan bermoral. Sebab, untuk melahirkan generasi yang ideal diperlukan tiga unsur pendidikan, yaitu pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan lingkungan. Kendati jam pelajaran pendidikan moral agama di sekolah ditambah semaksimal mungkin, apabila rumah tangga dan lingkungan tidak ikut mendukung hal itu, hasilnya juga jauh dari harapan.
Oleh karena itu, apabila kita menginginkan lahirnya generasi bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia, tiga unsur pendidikan itu wajib segera dibenahi. Apabila hal ini tidak dilakukan, justru akan lahir generasi preman dan intelektual maling. ●
Ali Mustafa Yaqub - Imam Besar Masjid Istiqlal
Kompas, 19 Oktober 2012
Brain Storming Kekerasan dalam Dunia Pendidikan
Tawuran Pelajar, Kapan Berakhir?
Asep Sapa'at. Nyawa pelajar melayang sia-sia, lagi dan lagi. Persis mengalami pengulangan yang sama. Aksi anarkis ala pelajar menambah catatan kelam di dunia pendidikan.
More....
Kompleksitas Tawuran Pelajar
Tb. Ronny R. Nitibaskara. Hanya sehari berselang dari pemakaman Alawy Yusianto, korban tawuran antara SMA 70 dan SMA 6, kembali terjadi tawuran dua kelompok pelajar SMK di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, yang juga menelan korban.
More...
Keluarga dan Pendidikan Moral
Joko Wahyono. Sampai hari ini, pendidikan masih dipercaya sebagai medium strategis untuk mengenalkan diri dan menanamkan nilai-nilai moral kemanusiaan kepada anak.
More...
Imlementasi Pancasila Untuk Redam Kekerasan Pelajar
Nikolaus Uskono. Beberapa pekan lalu, masyarakat dihehobkan dengan berita tawuran pelajar antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 yang menelan korban siswa SMAN 6 bernama Alawy Yusianto Putra.
More...
Di Luar Pagar Sekolah
Hasta Indriyana. Suatu sore, penulis menemani anak-anak usia SD membaca di sebuah perpustakaan dusun di pelosok Gunung Kidul, Yogyakarta. Di tengah keasyikan, seseorang bertanya, ”Lengkuas itu apa?”
More...
Pendidikan Moral Preman
Ali Mustafa Yaqub. Ketika diberitakan para pelajar melakukan tawuran sampai menimbulkan korban jiwa, seorang kawan berkomentar: ”Klop! Yang tua jadi intelektual maling, yang muda jadi pelajar preman.”
More...
Kekerasan di Sekolah
Muhammad Abduhzen. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi pendidikan yang disertai kekerasan baik di sekolah maupun perguruan tinggi.
More...
Intoleransi dan Kekerasan
Donny Gahral Adian. Sebuah republik dibangun dari segaris janji. Janji tentang kehidupan bersama yang adil dan beradab. Namun, di Republik ini janji tersebut berulang kali diingkari.
More...
Tawuran Pelajar Memprihatinkan Dunia Pendidikan
Sander Diki Zulkarnaen. Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar.
More...
Memutus Rantai Tawuran Pelajar
Doni Koesoema A. Memprihatinkan. Mengawali tahun ajaran baru dan bulan puasa, tawuran di beberapa sekolah negeri di Jakarta muncul lagi.
More...
Kurikulum Berbasis Kekerasan
Saifur Rohman.Orangtua murid satu sekolah swasta di Pondok Indah, Jakarta Selatan, melapor ke polisi karena anaknya menjadi korban kekerasan dalam acara orientasi sekolah. Hasil visum membuktikan ada sundutan rokok ke kulit korban oleh para seniornya.
More...
Tawuran dan Pelajaran Agama
Muhammad Guntur Romli. Perkara tawuran antarpelajar memang membuat pusing sekeliliingnya.
More...
Sejarah Tawuran Pelajar di Jakarta dari masa ke Masa
Rahib Tampati. Tawuran pelajar menjadi momok yang menakutkan pada era tahun 90 dan meledak begitu masif dan radikal di pertengahan tahun 1996.
More...
Menyetop Kekerasan di Sekolah
S. Sahalatua Saragih. Lagi-lagi kita dibuat bersedih hati setelah membaca berita tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh belasan siswa senior terhadap tiga siswa baru Sekolah Menengah Atas (SMA) Don Bosco Pondok Indah Jakarta (Republika, 27/7).
More...