Demi Kecerdasan Bangsa
Platform Pendidikan Indonesia
Jalan Pintu Air No. 6
Tangerang 15121
Phone: 087771975803
[email protected]
Kekerasan di Sekolah
Mohammad Abduhzen
Kekerasan di sekolah ternyata tak hanya terjadi ketika masa orientasi sekolah, juga sepanjang tahun dengan beragam modus, intensitas, dan pelaku. Data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan bahwa dari 1.026 responden, 87,6 persen anak mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Dari persentase itu, 29,9 persen kekerasan dilakukan guru, 42,1 persen oleh teman sekelas, dan 28,0 persen oleh teman lain kelas.
Menghilangkan perilaku kekerasan di lingkungan pendidikan bukan perkara mudah. Faktor penyebabnya sangat kompleks. Paulus Wirutomo (2007) menyebutkan bahwa kekerasan dapat disebabkan faktor yang bersifat individual, kultural, dan struktural. Perpeloncoan, menurut Guru Besar Sosiologi UI itu, merupakan wujud kekerasan struktural: sekolah kasih kesempatan dan wewenang resmi kepada senior melakukan kekerasan atas yunior.
Kekerasan adalah satu pilihan di antara sejumlah kemungkinan perilaku. Secara psikologis memang pelajar adalah anak muda yang tengah mengalami pancaroba, mencari identitas diri dan pengakuan. Yang jadi persoalan, mengapa tindak kekerasan bera-da dalam urutan teratas dalam jiwa, lalu jatuh sebagai pilihan para pelaku? Ini tentu berkorelasi dengan bagaimana persekolahan dan proses pembelajarannya diselenggarakan.
Pertama, kondisi lingkungan fisik pendidikan kita tak mendukung hadirnya rasa aman dan nyaman. Arsitektur sekolah kebanyakan dibangun memanjang dan terbuka seperti barak darurat tanpa memperhitungkan sisi- sisi edukatif. Situasi serupa itu, selain sulit memungkinkan kontrol, memudahkan pihak/pengaruh luar untuk masuk, juga mengurangi perasan terayomi.
Kedua, pembelajaran di seko- lah kurang mengembangkan kemampuan memilih sehingga murid dan lulusannya sering kesukaran memutuskan pilihan secara benar dan tepat. Memilih adalah proses mental yang mendahului setiap tindakan sadar dan menuntut sejumlah data pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan menalar.
Meskipun filosofi pendidikan kita mencerdaskan kehidupan bangsa, strategi pemelajarannya tak mementingkan pengembangan kemampuan berpikir. Kuriku- lum dan metodologi pendidikan nasional dirancang lebih mengisi pikiran dengan seabrek fakta pengetahuan; tak memberi cukup ruang bagi tumbuhnya kemampuan nalar sehingga pemelajaran di sekolah tak mencerahkan.
Ketiga, relasi dalam pemela- jaran di sekolah kita sangat tidak demokratis. Bertahun-tahun murid jadi obyek dominasi guru yang memosisikan diri sebagai sumber utama belajar dan kebenaran. Kebanyakan guru mengajar secara otoriter tanpa memberi kesempatan bagi murid mengekspresikan dan memekarkan potensi dirinya. Anak tidak mendapat pengakuan, kenikmatan, dan kepuasan dalam proses pemelajaran yang kemudian berakumulasi mencari penyalurannya sendiri.
Keempat, iklim pemelajaran yang menegangkan, terlebih dengan adanya ujian nasional, bercampur dengan ketakpastian masa depan dalam situasi bangsa (juga keluarga) yang karut-marut seperti sekarang, menyimpan banyak potensi konflik yang laten. Problem ketakpastian hukum, kesenjangan ekonomi, ketaktegasan pemimpin serta ketakpuasan terhadap kelompok dominan setiap saat mudah memantik amuk yang mengerikan.
Kelima, media massa yang silih berganti dan terus-menerus mendedah segala macam kekera-san, irasionalitas, dan percabulan jadi sumber inspirasi, imitasi, dan referensi bertindak ketika anak menghadapi masalah.
Presiden SBY menekankan reformasi pendidikan besar-besaran sebagai solusi menghilangkan kekerasan. Ini kali kedua presiden menyampaikan gagasan demikian setelah yang pertama saat membuka Temu Nasional pada 29 Oktober 2009.
Solusi
Secara normatif, reformasi pendidikan telah dimulai sejak amendemen UUD 1945, berlanjut pada UU Sisdiknas 2003, dan UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Ada tiga ide utama yang ditetapkan mengawali perubahan besar: anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan APBD, perubahan copernican definisi pendidikan dari guru aktif ke murid aktif, dan profesionalisme jabatan guru.
Sayangnya, dalam implementasi, ketiga gagasan itu banyak terdistorsi sehingga pendidikan kita kuyup anomali, antara lain kekerasan di sekolah. Presiden seharusnya mengaudit jalannya reformasi pendidikan yang dicanangkan, bukannya tertarik pada hal sepele: masa orientasi sekolah atau gedung rusak.
Kekerasan di sekolah itu kompleks dan sukar dihilangkan seca- ra instan. Reformasi yang fundamental, total, dan gradual merupakan keniscayaan. Solusi sementara ialah pelatihan guru dan murid, terutama anak yang tergabung dalam kelompok dominan: OSIS dan kelompok lain.
Pelatihan guru terutama meningkatkan motivasi dan menginspirasi perubahan ke arah yang lebih demokratis. Problem kinerja guru adalah rendahnya motivasi yang tak akan membaik dengan diceramahi para pejabat atau dengan sertifikasi portofolio. Diperlukan model pelatihan yang partisipatif, efektif, dan menyenangkan.
Pelatihan murid bertujuan memberi orientasi hidup, motivasi berprestasi, dan kepemimpinan. Model pelatihan dengan pendekatan dinamika kelompok yang digunakan Pelajar Islam Indonesia untuk membina para pelajar selama ini ternyata efektif. ●
Mohammad Abduhzen ; Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina
KO MPAS, 11 Agustus 2012
Brain Storming Kekerasan dalam Dunia Pendidikan
Tawuran Pelajar, Kapan Berakhir?
Asep Sapa'at. Nyawa pelajar melayang sia-sia, lagi dan lagi. Persis mengalami pengulangan yang sama. Aksi anarkis ala pelajar menambah catatan kelam di dunia pendidikan.
More....
Kompleksitas Tawuran Pelajar
Tb. Ronny R. Nitibaskara. Hanya sehari berselang dari pemakaman Alawy Yusianto, korban tawuran antara SMA 70 dan SMA 6, kembali terjadi tawuran dua kelompok pelajar SMK di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, yang juga menelan korban.
More...
Keluarga dan Pendidikan Moral
Joko Wahyono. Sampai hari ini, pendidikan masih dipercaya sebagai medium strategis untuk mengenalkan diri dan menanamkan nilai-nilai moral kemanusiaan kepada anak.
More...
Imlementasi Pancasila Untuk Redam Kekerasan Pelajar
Nikolaus Uskono. Beberapa pekan lalu, masyarakat dihehobkan dengan berita tawuran pelajar antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 yang menelan korban siswa SMAN 6 bernama Alawy Yusianto Putra.
More...
Di Luar Pagar Sekolah
Hasta Indriyana. Suatu sore, penulis menemani anak-anak usia SD membaca di sebuah perpustakaan dusun di pelosok Gunung Kidul, Yogyakarta. Di tengah keasyikan, seseorang bertanya, ”Lengkuas itu apa?”
More...
Pendidikan Moral Preman
Ali Mustafa Yaqub. Ketika diberitakan para pelajar melakukan tawuran sampai menimbulkan korban jiwa, seorang kawan berkomentar: ”Klop! Yang tua jadi intelektual maling, yang muda jadi pelajar preman.”
More...
Kekerasan di Sekolah
Muhammad Abduhzen. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi pendidikan yang disertai kekerasan baik di sekolah maupun perguruan tinggi.
More...
Intoleransi dan Kekerasan
Donny Gahral Adian. Sebuah republik dibangun dari segaris janji. Janji tentang kehidupan bersama yang adil dan beradab. Namun, di Republik ini janji tersebut berulang kali diingkari.
More...
Tawuran Pelajar Memprihatinkan Dunia Pendidikan
Sander Diki Zulkarnaen. Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar.
More...
Memutus Rantai Tawuran Pelajar
Doni Koesoema A. Memprihatinkan. Mengawali tahun ajaran baru dan bulan puasa, tawuran di beberapa sekolah negeri di Jakarta muncul lagi.
More...
Kurikulum Berbasis Kekerasan
Saifur Rohman.Orangtua murid satu sekolah swasta di Pondok Indah, Jakarta Selatan, melapor ke polisi karena anaknya menjadi korban kekerasan dalam acara orientasi sekolah. Hasil visum membuktikan ada sundutan rokok ke kulit korban oleh para seniornya.
More...
Tawuran dan Pelajaran Agama
Muhammad Guntur Romli. Perkara tawuran antarpelajar memang membuat pusing sekeliliingnya.
More...
Sejarah Tawuran Pelajar di Jakarta dari masa ke Masa
Rahib Tampati. Tawuran pelajar menjadi momok yang menakutkan pada era tahun 90 dan meledak begitu masif dan radikal di pertengahan tahun 1996.
More...
Menyetop Kekerasan di Sekolah
S. Sahalatua Saragih. Lagi-lagi kita dibuat bersedih hati setelah membaca berita tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh belasan siswa senior terhadap tiga siswa baru Sekolah Menengah Atas (SMA) Don Bosco Pondok Indah Jakarta (Republika, 27/7).
More...