Pengalaman guru
Belajar Sains melalui Pengamatan
Bernadette Evy Anggraeny Dhewi
Guru SMA Regina Pacis Jakarta
Ada banyak alasan mengapa seorang siswa kurang berhasil dalam meningkatkan prestasi mereka. Alasan ini bisa merupakan sesuatu yang sepertinya ada di luar kendali guru, misalnya ciri kepribadian (bentuk-bentuk kepribadian yang terlahir karena lingkungan keluarga), minat, dan kemampuan akademis siswa (bukan mengadili, namun dalam kenyataan ada anak-anak dengan kemampuan akademis rendah dan yang lain dengan kemampuan akademis tinggi). Apa yang tampaknya ada di luar kendali guru, seperti ciri kepribadian, minat, dan kemampuan akademis siswa ini bisa berubah bila guru dapat mendampingi, memotivasi dan mempergunakan pedagogi yang baik dalam mengajar dan membangkitkan motivasi belajar siswa.
Di tengah model pembelajaran yang mempersiapkan peserta didik untuk memenuhi tuntutan tes, membantu siswa agar memiliki pembelajaran yang otentik tidak mudah. Tantangan itu bisa berasal dari lingkungan sekolah, orang tua, maupun dari rekan guru sendiri.
Sebagai guru sains, saya ingin agar siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta mau belajar dari pengalaman langsung. Karena itu, seringkali saya meminta siswa untuk belajar melalui pengamatan langsung. Misalnya, siswa saya minta untuk menanam pohon dan membuat pengamatan pertumbuhan tanaman yang mereka tanam. Tugas ini sudah saya berikan jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga membutuhkan proses, persiapan, dan tidak bisa dilakukan secara mendandak. Pada akhir penugasan, anak-anak saya wajibkan membawa hasil tanamannya itu ke sekolah.
Bagi anak-anak yang memang ingin tahu proses pertumbuhan dan belajar dari pengalaman, penugasan ini membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat tinggi, sehingga siswa tersebut sungguh menjaga pertumbuhan tanamannya dengan baik. Pada saat tugas dikumpulkan, pohon yang ditanam tumbuh dengan baik, dan laporan mingguan yang dibuat menunjukkan otentisitas sebagai pembelajar. Namun, bagi anak-anak yang kurang serius mempelajari proses pertumbuhan ini, tanaman bisa mati dalam proses. Bahkan atas kegagalan penanam ini pun mereka tidak berani membuat laporan, dan pada saat mengumpulkan tugas ia hanya mengatakan, “tanaman saya mati, Bu. Tidak bisa tumbuh. Jadi tidak ada laporannya…”
Model penugasan seperti ini sering saya lakukan karena saya ingin para murid mengalami proses pembelajaran secara langsung dari pengalaman. Namun, penugasan seperti ini pun tidak lepas dari tantangan dan kesulitan. Ada orang tua yang mengeluh, anaknya kok diberi tugas yang aneh-aneh. Tugas demikian ini dianggap aneh dan memberatkan.
Selain mengajak peserta didik untuk belajar melalui pengalaman, Saya juga mengajak para siswa untuk meluaskan pemikiran dan pengetahuan mereka tentang isu-isu sains terbaru dengan cara memberikan penugasan melalui pembuatan kliping, atau laporan kunjungan. Untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya pemanfaatan media informasi dan komunikasi dalam pembelajaran, saya membuat website pembelajaran biologi yang bisa diakses oleh siswa, yang juga menjadi sarana komunikasi dalam belajar. Banyak siswa memperoleh manfaat dari kehadiran website ini. Namun, selalu saja ada yang tidak setuju, ada yang mengeluh, bahkan ada orang tua yang mengeluh karena anak-anak mereka sekarang harus pergi ke warnet untuk menyelesaikan tugas belajar, atau mengunduh materi pembelajaran. Padahal, Saya sudah mengajak siswa untuk belajar secara bersama. Kalau mereka tidak memiliki akses pada internet, mereka bisa kerjasama dengan temannya yang sudah mengunduh, memfotokopinya, sehingga tetap dapat mempelajari materi tersebut.
Di tengah model pembelajaran yang mengutamakan dril dan hafalan, Saya mencoba mengajak anak-anak untuk belajar sains secara lebih menarik melalui pengalaman pengamatan langsung, disertai dengan pemanfaatan media komunikasi dan informasi. Beberapa anak yang telah memanfaatkan model pembelajaran ini ternyata baru merasakan manfaatnya ketika ia lulus. Beberapa alumni mengatakan bahwa apa yang dulu ia pelajari, sekarang ini sangat ia rasakan manfaatnya ketika ia memasuki sekolah yang memiliki tuntutan tinggi bagi para siswanya.
Pelajaran yang saya ampu adalah pelajaran yang masuk dalam Ujian Nasional (UN). Pelajaran yang masuk dalam UN ini saja kadang mereka sepelekan dan abaikan. Saya tidak tahu bagaimana nasib mata pelajaran yang tidak masuk dalam UN. Kadang, mempermudah siswa dan membantu mereka agar naik kelas, dengan cara menurunkan kualitas pembelajaran, bisa membantu siswa. Namun, ini bukanlah model pembelajaran otentik yang menantang siswa. Kita tetap harus memiliki tuntutan yang tinggi terhadap siswa karena kita percaya mereka mampu.
Namun, mampu memotivasi siswa dengan tuntutan tinggi pun ternyata tidak mudah. Masih ada banyak hal lain yang perlu diperhatikan ketika kita ingin meningkatkan prestasi siswa. Perubahan pedagogi dan metodologi belajar belumlah mencukupi bila tidak ada kerja sama dalam rangka meningkatkan iklim dan kultur belajar yang otentik, yang didukung oleh seluruh pendidik, warga sekolah dan dikomunikasikan dengan baik dengan orang tua.
arsip Pengalaman Guru
Ganti Menteri Ganti Kurikulum - Guru Tetap GuruPerubahan kurikulum menyisakan berbagai macam tanggapan dan reaksi. Sikap reaktif bukanlah ciri khas guru.
Pasca sertifikasi, masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah agar pengembangan profesionalisme guru tetap berjalan dengan baik.