Pijar Newsletter

Bersama Guru Mencerdaskan Bangsa

topik kita

Ganti Menteri Ganti Kurikulum, Guru Tetap Guru

Semakin terbukti pemeo yang mengatakan ganti menteri ganti kurikulum. Itulah kenyataan yang dihadapi para guru di Indonesia saat ini. Sayangnya, para pengambil kebijakan pendidikan seringkali lupa, siapapun menterinya, guru tetaplah guru. Guru tetaplah menjadi ujung tombak keberhasilan setiap perubahan kurikulum. Seperti yang dikatakan Andy Hargreaves, setiap perubahan pendidikan, apapun bentuknya, tidak akan berhasil jika tidak melibatkan guru sebagai pelaku di lapangan.

 

Kurikulum 2013 adalah jalan terjal yang harus dilewati guru. Siap atau tidak, guru harus menjalankan Kurikulum 2013. Sementara polemik tentang Kurikulum 2013 belum berakhir, kita perlu melihat ke depan terkait dengan tantangan yang dihadapi dunia pendidikan kita. Meskipun tampaknya ada ketergesaan Pemerintah untuk memaksakan pelaksanaan Kurikulum 2013 (secara konseptual Kurikulum 2013 masih banyak hal yang perlu dikritisi), guru-guru semestinya tetap bersikap positif, sembari tetap mempertahankan pemikiran kritis yang mereka miliki dalam rangka pengembangan profesional mereka sebagai pendidik.

 

Mengutuk perubahan kebijakan tidak akan membuat kita menjadi lebih profesional. Atau membuat praksis mengajar kita menjadi lebih baik. Perubahan adalah dinamika kehidupan yang setiap hari dihadapi guru di kelas, dan di sekolah. Guru tidak perlu takut pada perubahan. Sebaliknya, guru perlu menyadari, persoalan pendidikan adalah persoalan politik. Kita perlu ikut serta ambil bagian dan terlibat dalam pembenahan pendidikan nasional melalui cara-cara kita. Ketika dialog politik telah buntu, kita perlu mengupayakan ikhtiar lain agar dampak merusak dari ketergesaan pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak menjadi semakin luas.

 

Apa saja yang perlu dipersiapkan guru sebagai pribadi, komunitas profesional, maupun sebagai bagian penting dalam sebuah lembaga pendidikan?

 

Sebagai pribadi, guru mesti merefleksikan kembali visi pendidikan (baca, idealisme tentang pendidikan) yang mereka yakini. Visi inilah yang mengarahkan individu guru dalam mengembangkan dirinya, melengkapi kekurangannya, dari segi ilmu, pedagogi dan metodologi pengajaran, serta keterampilan dalam memanfaatkan sarana-sarana yang membantu pengembangan dirinya sebagai guru yang kompeten. Visi pendidikan yang dimiliki oleh seorang guru akan menjadi daya dorong dan motivator bagi dirinya untuk bekerja secara profesional di tengah keterbatasan struktur, sistem dan kebijakan pendidikan.

 

Sebagai anggota dari komunitas profesional pendidik, guru perlu melihat Kurikulum 2013 sebagai tantangan, baik bagi diri sendiri, maupun komunitas profesionalitas pendidik. Di tengah riuh rendah suara perubahan kurikulum yang belum tentu jelas seperti apa bentuknya, guru diharapkan dapat selalu memutakhirkan informasi, data-data dan perkembangan Kurikulum 2013 serta belajar melihat di mana kurikulum ini menantang kinerja mereka sebagai pendidik. Guru perlu melihat di mana sisi-sisi positif dari perubahan kurikulum baru, tantangan-tantangan apa saja yang menghampar di depan mata terkait dengan isi, metode dan evaluasi pembelajaran, sehingga guru tetap memiliki integritas akan kinerjanya sebagai pendidik.

 

Sebagai anggota komunitas pendidikan profesional, guru tidak bekerja sendirian. Memanfaatkan jaringan antar guru, diskusi dengan rekan sebaya dalam kolegialitas guru, serta mau berdialog mencari jalan-jalan terbuka untuk mengantisipasi perubahan, kiranya diperlukan. Guru perlu proaktif, berani berselancar di antara kebebasan dan kepatuhan, serta berani membentuk diri menjadi pendidik yang bervisi ke depan.

 

Dunia pendidikan adalah dunia publik, ini terjadi karena pendidikan merupakan sebuah kepentingan umum yang bertujuan demi kebaikan umum (public good) yang menjaga agar masyarakat tetap bermartabat dan berbudaya. Adalah imperatif bagi para guru untuk tidak berjuang sendirian, melainkan perlu membangun jaringan yang kuat, dengan memanfaatkan media dan jejaring sosial yang ada agar dapat memengaruhi pengambilan keputusan, terutama kebijakan tentang pendidikan.

 

Guru tidak bisa hanya ikut saja, melainkan perlu terlibat aktif dalam membentuk opini publik tentang pendidikan, agar pendidikan yang mahapenting itu tidak menjadi semacam cek kosong yang kita serahkan kepada para politisi yang tidak mengerti seluk beluk dunia pendidikan.

 

Sebagai bagian penting sebuah lembaga pendidikan yang terikat dengan kebijakan dan peraturan mengikat yang dikeluarkan oleh Negara, agar kepentingan siswa tidak dirugikan, lembaga pendidikan dalam mengambil keputusan dan cara bertindak tetap harus mengacu pada pedoman peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Negara kita adalah Negara Hukum, dan terkait dengan kinerja pendidikan, kita tidak bisa mengabaikan dimensi kehadiran Negara dalam setiap tindak atau pun intervensi pendidikan yang kita laksanakan. Pandai berselancar di antara peraturan, sementara tetap fokus pada apa yang menjadi kebaikan dan kepentingan siswa dalam proses pendidikan merupakan sebuah tantangan seni mendidik di zaman ini.

 

Para menteri boleh berganti, kebijakan pun boleh berubah, namun guru tetaplah guru. Andalah yang menentukan seperti apa masa depan para murid dan masa depan bangsa ini. Karena itu, para guru tidak pernah boleh takut pada perubahan. Guru tetap perlu memiliki pemikiran yang jernih, hati yang tulus mendidik, serta kesadaran kritis bahwa pendidikan adalah urusan publik, sehingga pendidik pun perlu ikut ambil bagian secara aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. (dka)

 

arsip topik kita

Ganti Menteri Ganti Kurikulum - Guru Tetap Guru

Perubahan kurikulum menyisakan berbagai macam tanggapan dan reaksi. Sikap reaktif bukanlah ciri khas guru.

Pekerjaan Rumah Pasca Sertifikasi

Pasca sertifikasi, masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah agar pengembangan profesionalisme guru tetap berjalan dengan baik.