manca negara
India: Tantangan Kurikulum Global
Semakin banyak anak-anak di India yang mengikuti program pendidikan internasional agar bisa studi ke luar negeri. Pendidikan di India semakin mengarah ke internasionalisasi kualitas pendidikan, melalui program IB yang memberi keleluasaan siswa melanjutkan studi ke luar negeri. Fenomena ini terjadi karena model pendidikan di India yang klasikal dan mengutamakan hafalan dianggap kurang memadai. Ada masyarakat yang haus model pendidikan yang inspiratif, inovatif, menarik. Namun, tetap ada pula mereka yang memilih jalur pendidikan dengan disiplin keras dan rigor, karena model seperti itu pun ternyata tetap dibutuhkan untuk mengatasi tantangan zaman yang serba ambigu. Bagaimana India mengatasi persoalan ini?
Sekarang ini semakin banyak anak-anak di India yang mengikuti program pendidikan internasional agar bisa studi di luar negeri. Motivasi ini bisa jadi berasal dari anak sendiri yang go international. Namun, ada juga orang tua yang membebaskan anaknya mengambil pilihan ke sekolah internasional karena alasan pedagogis. Apa yang dilakukan di sekolah internasional tidak ditemukan di sekolah-sekolah negeri.
Ambil contoh kisah Anmol Bhansali (17 tahun), siswa dari B.D. Somani International School di selatan Mumbai. Ambisinya untuk bisa kuliah di Amerika membuatnya ketar-ketir sebelum menerima pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Akhirnya, Desember lalu kekhawatirannya hilang karena aplikasinya di Wharton School of Business di University of Pennylvania diterima.
Ia merasa yakin diterima karena ia telah mengikuti diploma International baccalaureate (IB) daripada mengikuti mengikuti Ujian Negara yang menjadi standard bagi kebanyakan siswa di India. “Saya sudah tahu sejak lama kalau saya harus mengambil IB,” ujar Bhansali. “Diploma ini memberikan saya kelenturan dan kemampuan untuk mempelajari apa yang saya inginkan, seperti Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Perancis, Biologi dan Ekonomi. Apalagi diploma ini memiliki pengakuan internasional.”
IB didirikan tahun 1968 di Geneva dan menyediakan empat program, untuk siswa sekolah dasar, sekolah menengah, dan untuk sekolah menengah atas bagi mereka yang berada di kelas XI dan XII serta sebuah ujian terkait dengan pilihan karir.
Diploma IB makin lama makin dikenal oleh panitia seleksi universitas sebagai standard di mana mereka dapat mengukur calon mahasiswa yang berasal dari berbagai negera yang memiliki sistem ujian nasional lokal yang berbeda. Anak-anak muda India yang ingin pergi ke Barat, banyak yang memilih mengikuti IB daripada program lokal.Mereka melihat IB sebagai sebuah alternatif modern terhadap sistem lokal yang lebih mengutamakan pada metode hafalan.
Parmeet Shah yang telah menyelesaikan sekolahnya di Dhirubhai Ambani International School dan sekarang sedang studi di Yale University menjelaskan alasan mengapa ia memilih IB. “IB tampak seperti program yang lebih baik dan lebih ter-updated. Ia tidak mengutamakan hafalan dalam berbagai mata pelajaran yang mereka tawarkan. Meskipun IB bukanlah 100 persen program yang terbaik, namun tampaknya banyak sekolah-sekolah yang paling baik di negeri ini mengadopsi metodenya. Saya agak frustasi dengan sistem ujian nasional di India, dan saya ingin sesuatu yang lebih baik,” ujarnya.
Sekolah-sekolah di India menanggapi positif gejala perlunya alternatif pilihan pendidikan ini. Menurut laporan International Baccalaureate Organization (IBO), pada tahun 2002, sekolah-sekolah India yang menawarkan IB hanya 10 sekolah. Sampai tahun 1997, keadaan ini meningkat menjadi sekitar 97 sekolah.
Pertumbuhan ini bisa jadi juga berasal dari perubahan paradigma pedagogi pendidikan yang dimiliki oleh orang tua. Menurut Direktur IB Asia Pasific, Ian Chamber, perubahan di Mumbai terjadi karena kesadaran orang tua dan anak akan pentingnya terlibat dalam dunia global yang membutuhkan keterbukaan wawasan. “orang tua semakin menyadari bahwa pembelajaran dengan model hafalan tidak mencukupi lagi. Alasan utama mereka adalah outward-focused dan cosmopolitan city.”
Meningkatnya kemakmuran di India membuat para orang tua memiliki pilihan untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah dasar maupun sekolah menengah yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Banyaknya peminat IB merefleksikan pentingnya beberapa nilai, seperti fokus pada kelenturan dan keterbukaan, yang bertentangan dengan pendekatan ujian tradisional yang kaku dan fokus pada tes semata. Orang tua di India melihat bahwa sistem IB menawarkan model pembelajaran yang lebih baik, lebih holistik dengan rasio guru-siswa lebih kecil, serta menawarkan model pembelajaran dengan cara bertanya dan bereksplorasi (Enquiry-based system of learning). Sayangnya, program ini seringkali dicap sebagai program yang elitis karena mahal harganya. Di Mumbai, misalnya, biaya sekolah per tahun untuk sekolah dengan program IB untuk kelas XI dan XII bisa mencapai 150 juta rupiah. Sedangkan sekolah umum rata-rata biaya pertahun antara 16 juta sampai 20 juta.
Tentu saja, menerima siswa-siswi India yang memiliki tradisi pedagogi pendidikan yang sebagian besar hafalan tidaklah mudah bagi para pengurus di sekolah internasional. Selain itu, karena sistem IB merupakan sesuatu yang baru di India, kebanyakan kepala sekolah di India yang menawarkan program IB berasal dari luar India. Kepala Sekolah di B.D. Somani International School, Don Gardner, sebelumnya adalah Kepala Sekolah di Antwerp International School di Belgia.
“Dalam sistem IB, Anda belajar berargumentasi terhadap suatu sudut pandang, dan menerapkan informasi yang telah Anda pelajar,” ujarnya. “Hampir 85 persen siswa-siswi kami melanjutkan sekolah di luar negeri setelah menyelesaikan kelas XII.
Vladimir Kuskovski, yang telah hampir empat tahun menjadi kepala sekolah di Oberoi International School di pinggiran kita Mumbai, juga melihat bahwa tradisi ujian di India membuat para siswa di India belajar hanya untuk test. “Anak-anak di India memiliki keterampilan belajar yang kuat. Mereka memiliki motivasi. Yang kurang adalah kemampuan mereka untuk berpikir di luar materi ujian. Sistem yang ada berfokus pada test. Ini hanya teori, tidak berbasis penerapan,” ujarnya. “Ini adalah tantangan bagi kami, bagaimana membantu mereka menerapkan teori yang mereka pelajari.”
IB Program tampaknya menjadi daya tarik sendiri karena perbedaan metodologi dan hasil belajarnya. Namun, tidak semua setuju dengan pendapat ini.
“Disiplin kerja di sekolah-sekolah India sangat tinggi,” ujar Suhagi Deborah, salah seorang orang tua, yang kedua anaknya dimasukkan di sekolah swasta tertua di Mumbai, di mana sekolahnya tidak menawarkan IB.
Demikian juga dengan Smriti Mishra, yang baru pindah dari London ke Mumbai mengatakan bahwa dia dan suaminya sangat menginginkan anaknya mengikuti sistem pendidikan India untuk putri mereka. “Kami ingin anak kami melewati apa yang selama ini telah kami lewati, yaitu pendidikan yang rigor dan penuh disiplin,” ujarnya.
Apapun yang terjadi, fenomena meningkatnya pendaftar program IB perlu ditanggapi dengan terbuka. Asosiasi Universitas India, melihat trend popularitas program ini, sejak Januari lalu juga mulai mempersyaratkan calon mahasiswanya untuk menyelesaikan program IB bagi mereka yang berada di sekolah publik yang tidak menawarkan program IB. Ini tentu untuk juga menjaring mahasiswa berkualitas dari dalam negeri.
Yang menarik adalah tidak semua siswa yang mengambil program IB di India selalu ingin belajar di luar negeri. Trend belakangan menunjukkan bahwa mereka yang mengambil program IB malah banyak yang mengambil kuliah di Universitas di India. Data pada tahun 2003 menunjukkan ada 162 siswa yang mengikuti IB ingin tetap melanjutkan studi mereka di Universitas di India, sedangkan tahun lalu, jumlah ini meningkat menjadi 1810 siswa.
Kurikulum global merupakan tantangan yang tidak dapat dihindarkan oleh bangsa manapun. India telah mencoba meresponsnya dengan baik, sehingga para siswa yang mengambil program IB juga tetap memilih Universitas di India yang berkualitas. Demikian juga pilihan pedagogi pengajaran dan sistem evaluasi mestinya mendasarkan diri pada model-model pembelajaran yang basisnya adalah riset terbaru, sehingga siswa dapat memperoleh banyak manfaat saat mereka menjalani masa pendidikan. Tampaknya, sistem belajar berdasar pada tes, hafalan, dan hanya teori, di banyak Negara mulai ditinggalkan. (dka/dari berbagai sumber).
arsip dari pak fasli
Ganti Menteri Ganti Kurikulum - Guru Tetap GuruPerubahan kurikulum menyisakan berbagai macam tanggapan dan reaksi. Sikap reaktif bukanlah ciri khas guru.
Pasca sertifikasi, masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah agar pengembangan profesionalisme guru tetap berjalan dengan baik.