I HOME I INDONESIAN I

To buy the books, please contact:
Ms. Evy (Cell.) 08 77 88 33 2501
 
Students As Center of Learning

Ada perubahan dasar dalam Kurikulum 2013. Perubahan ini terkait dengan konsepsi terhadap siswa. Sekarang, siswa dianggap sebagai pembelajar utama. Begitu konsep terhadap siswa berubah, tujuan pendidikan juga berubah. Demikian juga dengan seluruh metode dan strategi pengajaran, serta sistem evaluasi. Perubahan konsep ini memiliki implikasi moral, kultural dan pedagogis yang tidak kecil. Selama perubahan dalam tiga dimensi ini tidak disentuh, kurikulum 2013 terancam gagal dan menjadi sekedar macan kertas, karena praktik dan sistem budaya yang ada tetap sama.

Tiga Implikasi

Secara moral, kebijakan pendidikan dalam kurikulum baru menekankan kebaikan yang ditujukan bagi siswa dalam belajar. Maka, fokus pendidikan yang terutama adalah ditujukan kepada siswa. Setiap kebijakan pendidikan, sebelum dirancang harus bertanya, apakah kebaikan siswa yang akan diperoleh melalui desain pendidikan? Pandangan ini memiliki implikasi moral bahwa siswa tidak lagi boleh dianggap sebagai objek, baik itu bagi pertarungan kepentingan politik, maupun ajang pencarian nama baik, atau pencitraan atas nama apapun. Siswa adalah individu yang harus dihargai keberadaannya sebagai individu, karena mereka adalah pembelajar utama dalam pendidikan. Merekalah pelaku utama dalam tindak pendidikan. Siswa adalah subjek yang belajar. Tugas pendidik adalah menumbuhkan gairah (passion) belajar dalam diri siswa.

Secara kultural, model pendidikan yang selama ini telah terbentuk adalah cara belajar yang monolog, searah. Siswa selama ini dianggap sebagai semacam gelas kosong yang harus diisi dengan ilmu oleh pendidik dan guru. Demikian juga, siswa sendiri mengasumsi demikian. Dia hanya akan belajar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pendidik. Kultur belajar yang terjadi selama ini tidak otentik, melainkan mengikuti apa yang dimaui oleh guru, baik itu dalam pembuatan tugas maupun ulangan. Karena itu, para murid hanya berusaha membuat guru senang, karena apa yang diminta guru telah mereka penuhi. Namun, sesungguhnhya mereka tidak belajar. Mereka hanya pura-pura belajar, karena belajar dianggap sekedar memenuhi apa yang diminta oleh guru.

Karena itu, siswa sekarang pun juga mesti diajak untuk berpikir yang berbeda dari sebelumnya. Ia belajar bukan karena permintaan guru atau pertanyaan guru, melainkan ia belajar sesuatu karena ingin mendalami ilmu itu dengan lebih baik yang akan berguna bagi hidupnya di masa sekarang dan yang akan datang. Siswa adalah pelaku aktif dalam proses belajar. Karena itu, perubahan pedagogis juga merupakan sebuah keharusan.

Pedagogi berbicara tentang bagaimana cara-cara pendidik mendampingi anak-anak muda ini dalam mengembangkan dan menumbuhkan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dimensi pembelajaran yang mengembangkan rasa ingin tahu melalui kegiatan bertanya, mengamati dan mengekplorasi menjadi hal yang sentral dalam proses belajar. Karena itu, terjadi pergeseran peran guru. Guru pun bukan lagi merupakan pemonopoli ilmu pengetahuan, melainkan menjadi fasilitator pembelajaran bermakna bagi siswa. Pembelajaran bukan lagi sebuah proses yang terjadi secara statis, monolog, dari guru ke siswa, melainkan guru memberikan kesempatan dan ruang bagi siswa untuk mendalami, belajar dari pengalaman, mengeksplorasi tema-tema tertentu sehingga ilmu yang mereka dapatkan akan semakin utuh dan lengkap. Guru menjadi pendesain ruang-ruang, memancing tanya, serta membuka wawasan siswa agar berani memasuki dunia eksplorasi dan penjelajahan ilmu pengetahuan secara efektif.

Ketiga hal di atas mengandaikan adanya kebebasan berpikir, bertindak, dalam diri pendidik dan siswa, sehingga yang terjadi dalam setiap proses pembelajaran adalah pembelajaran yang otentik, bertumpu pada rasa penasaran intelektual dalam diri siswa sampai pada pemahaman yang makin mendalam tentang gejala-gejala, baik itu alamiah, maupun yang sublim, secara intensif dan mendalam. Hanya dengan kebebasan berpikir seperti inilah dapat terlahir para pendidik dan pembelajar yang bertanggungjawab atas anugerah ilmu pengetahuan yang telah ia terima dari Sang Pencipta.

Takut Kebebasan Berpikir

Sayangnya, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa para pendidik dan pelajar belum terbiasa dengan suasana kebebasan berpikir. Kita ingat, konsep pendidikan yang berpusat pada siswa sudah pernah kita laksanakan tahun 1984 dengan kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Namun apa yang terjadi di lapangan? Guru masih tetap terpaku pada jawaban dalam teks, dan siswa pun juga masih memiliki kebiasaan yang sama. Jenis pertanyaan yang diajukan hanya berdasar pada teks. Demikian juga dengan jawaban siswa. Siswa juga cenderung mencarinya dalam teks. Maka pendidikan kita sangat teksbooks. Begitu soalnya dialihkan ke kehidupan nyata yang memerlukan analisis dalam pengambilang keputusan, siswa kita tidak mampu.

CBSA gagal karena kultur di lapangan, di tingkat pendidik dan siswa tidak selaras dengan konsep dasar yang ingin dikembangkan. Siswa diharapkan aktif berpikir, tapi guru sendiri mengesankan bahwa jawaban siswa harus sama seperti apa yang diinginkan oleh guru, yaitu sebagaimana ada dalam buku teks. Akhirnya, CBSA hanya melahirkan rentetan pembelajaran semu dari tahun ke tahun. Guru ingin setia pada jawaban dalam teks, dan siswa pun menyesuaikan dengan apa yang diminta dan diharapkan guru. CBSA gagal melahirkan individu yang mampu berpikir bebas.

Kebebasan bereksplorasi dan belajar inilah tampaknya yang masih juga ditakutkan oleh para pengambil kebijakan, sehingga cara-cara bereksplorasi pun juga diatur, diarahkan, bahkan dibuatkan tema-temanya. Ini sangat kentara dari gagasan dasar buku babon untuk siswa dan guru. Jika buku babon ini hanya bersifat instruktif, tidak eksploratif, alias tidak memberi ruang bagi penggalian pengalaman secara mandiri maupun kelompok, gagasan besar kurikulum 2013 hanya akan berhenti pada tataran kebijakan, tapi tidak terjadi di lapangan.

Perubahan Kultural

Tantangan pendidikan ke depan memang tidak ringan. Pembaharuan kurikulum merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi perubahan zaman tersebut. Namun, pembaharuan kurikulum tidak akan efektif ketika dimensi kultural yang memengaruhi cara guru dan siswa berpikir dan melakukan pendidikan perlu juga diubah.

Melihat realitas para pendidik di lapangan sebagai pelaku utama kurikulum 2013, paradigma perubahan kultural perlu dikembankan dalam diri pendidik. Perubahan kurikulum sebagus apapun tidak akan mengubah kultur pendidikan kita yang sentralistis, guru-muridisme, dan murid-manutisme, bila kesiapan tenaga pendidik dan pelaku di lapangan tidak menyentuh sampai membongkar kesadaran budaya sentralisme yang memasung kreativitas guru, menciptakan budaya asal guru senang, dan asal murid naik kelas, meski sesungguhnya mereka tidak layak mendapatkan itu semua.
Merubah budaya ini merupakan keharusan.

 

 

 

 

 

.

Developing Effective Principalship

Boston College High School is a Jesuit Catholic college-preparatory school for young men founded in 1863. It is a great opportunity for me to learn from this school because it is well known that every Jesuit School brings with them long tradition about academic excellence. Read more.

Student as Center of Learning

There is a fundamental change in the New Curriculum 2013. Such change relates to the concept of student. Now, student is considered as learner. When such concept changes, the aim of education also changes accordingly. Read more...

Seminars & Workshops

We offer various kind of seminars, workshops and teacher's professional development. We also offer services on demand according to school needs. We prefer give services for teachers in the same school unit. Themes.

Understanding Students' Intellectuality

As educator in school, we have responsibility to the safety of our students. We feel worried when watching our students running accross the street...read more

Let Your Kids Grow Lika a Flower in the Spring

It is right what is said in the proverbs, the fuit will not fall far from its tree. What is meant by that is that a kids has the possibility to have the same character as his/her parents. Is it right? Read more...


Criticising National Education Policy

Mengkritisi Kebijakan Pendidikan Nasional (Criticising National Education Policy) is the title choosen by author to show his concern and passion for education in Indonesia. Baca lebih lanjut.




 
Copyright by www.pendidikankarakter.org 2012
I Privacy Policy I Terms of Services I Advertise I Clients & Partners I F.A.Q.I