INDOZONE.ID – Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak hal di masyarakat. Salah satunya terkait metode pembelajaran di institusi pendidikan seperti sekolah. Di bulan Maret lalu, ada kebijakan yang mengharuskan kegiatan pembelajaran dilakukan secara online guna mencegah penyebaran virus di lingkungan sekolah.

Di tahun ajaran baru yang resmi berjalan sejak kemarin, beberapa sekolah ada yang sudah kembali mengadakan pembelajaran tatap muka. Namun, banyak pula sekolah yang tetap menerapkan sistem pembelajaran online karena menilai situasi belum kondusif. Sama seperti di awal, metode pembelajaran online pun masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

Menurut pengamat pendidikan Doni Koesoema A, sebenarnya pembelajaran online bila dipersiapkan dengan baik maka kualitasnya akan sama dengan pembelajaran tatap muka. Sebab meskipun metodenya berbeda, standar visi dan penilaiannya hampir sama.

“Sekarang ini persiapan kurang, semua masih belajar. Siswa dan guru baru belajar, ini yang membuat secara psikologis berat. Selain itu, sekarang ini untuk pembelajaran online di beberapa sekolah ternyata hanya memindahkan apa yang ada di dalam kelas ke dunia maya, ini salah,” ujar Doni kepada Indozone saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (14/7/2020).

Lebih lanjut ia menjelaskan, ada dua hal yang menjadi dampak pembelajaran online yakni terhadap metodenya dan psikologis peserta didik. Doni mencontohkan, salah satu sekolah di Jakarta Barat ada yang menyelenggarakan pembelajaran online sejak pukul 7 pagi hingga 12 siang di tahun ajaran baru. Dalam pembelajaran online, para siswa dan guru benar-benar berinteraksi di melalui gadget selama 5 jam non stop.

“Menurut saya itu tidak bisa dibenarkan. KPAI mengatakan kemampuan anak belajar daring paling banyak sehari 2 jam. Kalau lebih bisa merusak mata, merusak kesehatan anak karena terpapar radiasi,” ucap Doni.

Ia mengatakan, sekolah harus memahami pembelajaran online bukan berarti guru dan siswa harus terus sinkron bersama dalam aplikasi seperti Google Meet atau Zoom. Sebab sistem pembelajaran online bukan memindahkan yang ada di kelas ke aplikasi.

Oleh karenanya, Doni meminta adanya ketegasan dari dinas pendidikan untuk membuat kebijakan guru dan siswa melakukan tatap muka online paling banyak 2 jam.

“Misalkan guru tatap muka 15 menit, kemudian tidak online, siswa mengerjakan tugas mandiri, lalu sebelum penutupan online lagi, itu enggak apa2. Tapi jangan full 2 jam online semua, itu capek, melelahkan, boros kuota dan memberatkan orangtua. Harus ada perubahan sistem, enggak bisa disamakan,” pungkas Doni.

Sumber: Indozone.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *