Hampir semua guru dan orang tua setuju bahwa pendidikan karakter merupakan bagian penting dalam sebuah proses pendidikan. Jika kita membaca bagaimana situasi sosial masyarakat kita saat ini, seperti maraknya perkelahian antar pelajar dan mahasiswa, tindak kekerasan yang terjadi di jalanan maupun di sekolah, perilaku tidak jujur yang tercermin dalam tindak korupsi, pemanfaatan jabatan, budaya mencontek, ketidakdewasaan pribadi seperti tercermin dalam penyalahgunaan obat-obatan, penyimpangan perilaku seksual di kalangan remaja dan masih banyak daftar yang bisa dilanjutkan di sini, kita pasti akan sepakat bahwa sudah saatnya pendidikan karakter dilaksanakan secara sistematis, strategis, utuh dan menyeluruh di sekolah sehingga progam pendidikan karakter menjadi semakin efektif.

Buku ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, sekaligus membangun fondasi keranga teoritis pendidikan yang mendasarkan diri pada berbagai macam riset dan pemikiran filosofis fundamental tentang antropologi.

Yang menjadi pertanyaan pokok bagi kita tentang persoalan seputar pendidikan karakter bukanlah apakah pendidikan karakter perlu diterapkan di sekolah, melainkan bagaimana menerapkan pendidikan karakter dalam dinamika dan praksis pengelolaan sekolah kita. Bertanya tentang “bagaimana”, kita mesti memiliki konsep yang jelas tentang pendidikan karakter itu sendiri, sehingga praksis pendidikan karakter di lingkup pendidikan terarah dan utuh. Lebih lagi, di tengah-tengah kesibukan sekolah yang sudah banyak dijejali dengan beban administrasi dan pengajaran, serta tuntutan dari luar tentang akuntabilitas pendidikan berupa Ujian Nasional (UN) yang berpotensi mengerdilkan proses belajar mengajar sekedar melampaui standar minimal UN, berbicara tentang pendidikan karakter memiliki banyak konsekuensi.

Tuntutan akuntabilitas publik terhadap kinerja lembaga pendidikan, tantangan standar peningkatan mutu pendidikan, dan sedikitnya tenaga, waktu dan sarana yang dimiliki oleh lembaga pendidikan dan guru menantang setiap pendidik untuk mendesain pendidikan karakter di sekolah tanpa melalaikan tujuan penting yang ingin diraih dalam setiap pendidikan, yaitu keunggulan akademis di setiap jenjang pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan karakter tidak dapat dipahami sebagai bagian tambahan bagi pengembangan keunggulah akademik siswa, melainkan menjadi satu bagian integral dalam rangka pendidikan kemanusiaan secara utuh.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana menerapkan dan mendesain pendidikan karakter di sekolah secara utuh dan menyeluruh mengandaikan bahwa para pendidik memiliki pemahaman yang memadai tentang pendidikan karakter.

Ada banyak praksis pendidikan karakter yang selama ini telah berlaku dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Demikian juga ada banyak pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Perbedaan pandangan tentang pendidikan karakter seringkali berawal dari perbedaan asumsi dasar yang dipakai serta kerangka teoritis tentang filsafat pendidikan yang diyakini. Karena itu, sah-sah saja memiliki perbedaan pemahaman tentang pendidikan karakter.

Yang menjadi persoalan adalah apakah praksis pendidikan karakter itu benar-benar didasarkan pada pemahaman yang kokoh tentang pandangan tentang manusia (antropologi pendidikan),  makna pendidikan karakter yang memadai, serta tujuan yang jelas, sehingga desain pendidikan karakter di sekolah benar-benar mampu membantu membentuk siswa menjadi pribadi yang kokoh dan sehat secara intelektual dan moral.

Perbedaan pemahaman ini melahirkan praksis yang berbeda pula dalam melaksanakan program pendidikan karakter di sekolah. Praksis biasanya mendasarkan diri pada gagasan pemahaman dan asumsi tertentu tentang pendidikan karakter. Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan sekedar pada praksis yang bertanya tentang “bagaimananya”, namun lebih menukik dalam penggalian kritis tentang asumsi serta cara berpikir kita dalam memahami konsep dasar pendidikan karakter secara fundamental.

Jika kita telah menemukan asumsi dan dasar filosofis yang kuat bagi pemahaman kita tentang pendidikan karakter, barulah kita bisa merencanakan dan mendesain kurikulum pendidikan karakter di sekolah kita secara konsisten dengan pendekatan teoritis yang kita pakai.

Jika asumsi teoritis di balik praksis pendidikan karakter kurang memadai, strategi penerapan yang mendasarkan diri pada asumsi dasar tersebut juga tidak memadai. Bahkan bisa jadi malahan kontraproduktif dengan niatan awal yang ingin diraih melalui praksis pendidikan karakter.

Mengkritisi asumsi di balik praksis pendidikan karakter sembari membangun fondasi teoritis yang kokoh bagi praksis pendidikan karakter kiranya merupakan langkah awal bagi setiap proses pengembangan program pendidikan karakter.

Mendesain kurikulum pendidikan karakter di sekolah mengandaikan pemahaman integral tentang pendidikan karakter sehingga usaha pengembangan yang sedang dilakukan benar-benar koheren dan konsisten dengan apa yang sedang diperjuangkan. Kerangka teoritis yang kuat, disertai konsistensi dan koherensi dalam praksis memungkinkan pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh dilaksanakan dan dinilai secara strategis dan efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *