Tantangan Pembentukan Karakter Siswa Indonesia

18 Agustus 2013

Pendidikan karakter merupakan bagian integral bagi pembentukan budaya bangsa yang bhinneka. Karena itu, perlu keutuhan antara pemahaman dan praksis tentang pendidikan karakter. "Banyak reduksi telah terjadi dalam praksis pengembangan pendidikan karakter, " ujar Doni Koesoema A, pengembangan pendidikan karakter utuh dan menyeluruh dalam Kongres Diaspora Indonesia II, di Jakarta, (18/8).

Kongres Diaspora Indonesia II Task Force pendidikan dihadiri para praktisi, akademisi dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Hadir dalam acara itu H.A.R. Tilaar, Arief Rahman, Ibu Henny Supolo, Itje Chodidjah, dan perwakilan Indonesia diaspora, dari Mesir, Thailand, dll.

Meskipun pendidikan karakter sudah dicanangkan secara resmi oleh pemerintah sejak 2011, kualitas pendidikan kita masih jauh dari harapan. Mengapa ini terjadi? Ini terjadi karena pemahaman pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh telah tereduksi pada sekedar pendekatan yang sifatnya parsial, seperti hanya dari sisi psikologis, atau pun kerohanian.

"Padahal, Ada kaitan erat antara asumsi-asumsi atau keyakinan-keyakinan yang kita miliki dengan praksis pendidikan yang kita lakukan. Karena pendidikan karakter terkait dengan pendidikan untuk menjadi manusia yang baik, maka konsep tentang manusia menjadi sangat sentral sebelum kira mendesain praksis untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pendidikan karakter," ungkap Doni.

Perlu pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang pendidikan karakter. Peningkatan kualitas pendidikan melalui pendidikan karakter mengandaikan pemahaman yang kokoh tentang pendidikan karakter, sehingga praksis pendidikan karakter yang terjadi di sekolah dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk itu, merunut akar penyebab mengapa pendidikan karakter dianggap gagal, merupakan langkah penting untuk mendesain pendidikan karakter yang lebih kokoh, efektif, dan memiliki fungsi transformatif bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pendidikan Karakter = Soft Skill? Atau Moral Enterprise?

Banyak yang menganggap bahwa pendidikan karakter itu tak lain adalah pembentukan keterampilan lunak, soft skill yang mesti dimiliki individu (saya tidak mengatakan murid, karena bagi saya, pendidikan karakter terkait dengan kehidupan seluruh individu yang terlibat dalam dunia pendidikan).

"Soft skill adalah alat, atau sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai moral/akhlak yang dilakukan oleh individu. Soft skill, seperti kemampuan untuk berkomunikasi, adalah sekedar keterampilan yang sifatnya netral. Ia akan menjadi keterampilan yang mendukung pembentukan karakter ketika isi komunikasi itu memiliki muatan nilai moral," jelas Doni. "Moralitas terkait dengan bagaimana manusia menjadi semakin memanusia melalui praksis nilai yang terwujud melalui kegiatan dan aktivitas manusiawi".

Justifikasi Kurikulum 2013 adalah karakter

Latar Belakang Justifikasi Kurikulum 2013 adalah karakter. Untuk memberikan solusi bagi concern Pak Boediono. Apakah Kurikulum lama merupakan sumber ketidakkarakteran bangsa ini? Kok tiba-tiba solusinya adalah kurikulum? "Pendidikan karakter sering dipolitisasi. Karena itu, para pendidik tetap harus kritis dan jernih dalam mengembangkan pendidikan karakter.

Pembicara lain, Prof. Yohanes Surya dari Surya University berbagi tentang keprihatinan dan usahanya dalam mengembangkan Universitas berbasis riset yang sangat dibutuhkan bagi ketangguhan bangsa Indonesia di masa depan. Tampil sebagai pembicara dalam diskusi ini antara lain Taufik Hanafie, staf ahli Kemdikbud, Ifa Hanifah (Indonesia Mengglobal), Boedi Soehardi (CNN Heroes 2009, pendiri Panti Asuhan Roeslin di Kupang), Das Albatani (Komunitas Satu Bambu Emas, Banten).