Prof. DR. Hj. Emosda, M.Pd, Kons.
![]() |
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, fenomena tentang kemerosotan nilai-nilai moral telah menjadi semacam lampu merah yang mendesak semua pihak, untuk segera memandang penting sebuah sinergi bagi pengembangan pendidikan karakter. Banyak bukti menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah ternyata membantu menciptakan kultur sekolah menjadi lebih baik, peserta didik merasa lebih aman, dan lebih mampu berkonsentrasi dalam belajar sehingga prestasi mereka meningkat. |
Menyiapkan karakter bangsa bukan hanya berurusan dengan penanaman nilai-nilai pada terdidik, namun merupakan sebuah usaha bersama untuk menciptakan suatu lingkungan pendidikan tempat dimana setiap individu dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa. Menyiapkan karakter bangsa merupakan sebuah pedagogi yang memiliki tujuan agar setiap pribadi semakin menghayati individualitasnya, mampu menghargai kebebasan yang dimilikinya sehingga dia dapat semakin bertumbuh sebagai pribadi maupun sebagai warganegara yang bebas dan bertanggung jawab, bahkan sampai pada tanggung jawab moral integritas atas kebersamaan hidup dengan orang lain di dalam dunia (Doni Koesoema A, 2007).
Penananaman nilai-nilai kejujuran sebagai salah satu karakter bangsa memunculkan sebuah pertanyaan yang menggelitik. Apakah penanaman nilai-nilai kejujuran dapat menjamin terwujudnya nilai-nilai kejujuran dalam perbuatan seseorang?
Sekiranya saja pendidikan hanya diartikan sebagai penanaman nilai-nilai, betapa mudahnya menjadi pendidik. Pendidik dapat saja menyusun urutan nilai-nilai yang seyogiyanya dimiliki terdidik, lalu kita pikirkan teknik penanamannya, kemudian kita terapkan kepada mereka, maka tertanamlah nilai-nilai itu pada diri terdidik. Apakah demikian?
Dalam kenyataannya, pendidikan itu tidak semudah yang kita duga. Mungkin masih banyak orang yang berhipotesis bahwa “ Knowing is behaving”, sementara kalau kita baca-baca dalam sejarah ternyata sejarah kemanusiaan menunjukkan bahwa orang yang telah memiliki banyak nilai, belum tentu mengamalkan nilai-nilai itu. Tampaknya penanaman nilai-nilai belum menjamin lahirnya pribadi-pribadi yang berkarakter seperti yang diharapkan. Pendidikan tidak mampu mewariskan nilai-nilai positif dalam sebuah proses pendidikan (Kompas, 8 Juni 2007).
Berbagai buku tentang pendidikan memang ada mengupas bahwa peradaban manusia merupakan warisan yang diambil oleh generasi sekarang dari generasi terdahulu melalui upaya yang sungguh-sungguh. Peradaban merupakan warisan sosial yang diupayakan manusia dalam memperoleh dan memeliharanya. Warisan itu tidaklah pindah dengan sendirinya dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya, kecuali dengan pendidikan yang berperan mentransfer kekayaan pemikiran, nilai-nilai mulia, tradisi yang baik dari nenek moyang ke generasi berikutnya.
Aktivitas pendidikan sejak awal telah menjadi cara bertindak dari sebuah masyarakat. Dengan demikian manusia mencoba melanggengkan peradabannya. Kepada generasi yang lebih muda mereka mewariskan nilai-nilai yang menjadi bagian penting dalam kultur masyarakat tempat mereka hidup. Jika proses pewarisan ini tidak terjadi, maka nilai-nilai yang telah menghidupi masyarakat dan kebudayaan tersebut terancam punah dengan kematian para anggotanya. Oleh karena itu pendidikan memiliki peranan penting sebab menentukan tidak hanya keberlangsungan masyarakat, namun juga mengukuhkan identitas individu dalam sebuah masyarakat.
Menurut saya, inilah rupanya landasan berfikir mengapa perlu penanaman nilai-nilai (dalam hal ini kejujuran) dilakukan secara terus menerus. Saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk mempertanyakan lebih dalam tentang penanaman nilai-nilai (kejujuran) dari keseluruhan pendidikan yang utuh. Read more...
Foto:instaweb.me