Tetap Kritis di Tengah Membanjirnya Imaji Palsu |
Saat ini kita memasuki lingkungan budaya baru yang secara dramatis ditransformasikan oleh teknologi komunikasi dan media global. Banyaknya imajinasi dan data ternyata tidak membuat manusia semakin cerdas dan bijak dalam mengambil keputusan. Bahkan, banyak pula yang tersesat dalam belantar imajinasi yang menumpulkan kecerdasan akal dalam memahami kebenaran. Kita memerlukan kajian kritis untuk menganalisis budaya industri komunikasi dan budaya global. Internet dan media sudah merupakan bagian dari hidup kita dan kita tidak akan pernah dapat mengesampingkannya. Karena itu, memahami bagaimana media bekerja melalui kemampuan berpikir kritis dan kreatif kiranya menjadi relevan di zaman ini. Bentuk-bentuk teknologi komunikasi yang baru telah menciptakan suatu bentuk interelasi dan integrasi global yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Media komunikasi tidak lagi menyajikan realitas yang sebenarnya. Menurut Fiske (Ibrahim, 2004:viii) semua realitas atau peristiwa bisa menjadi media eventsebagai realitas kedua. Dalam realitas kedua itu, manusia hidup dalam gelimang citra. Antara citra dan tatanan pengalaman baru pun sudah tidak ada lagi perbedaannya. Dokter, detektif, polisi, intelektual produk media dianggap “lebih real” oleh khalayak sehingga menjadi sumber referensi untuk solusi masalah hidup. Mata Kuliah ini mengajak dan membimbing mahasiswa untuk tidak hanya menjadi “konsumen” pesan media komunikasi yang pasif, tetapi juga menjadi individu yang aktif menegosiasi makna pesan yang disampaikan melalui media secara kritis, kreatif dan reflektif. Bagi mereka yang bersikap kritis, para penikmat film, pendengar berita, komentator sepak bola, penikmat sinetron, penggandrung acara opera sabun (sinetron) seperti OB ataupun pentas calon bintang seperti Mamamia, AFI (Akademi Fantasi Indonesia), Indonesian Idol, dan lain sebagainya, tentu ini akan dimaknai berbeda bila dibandingkan dengan mereka yang cenderung pasif dan tidak kritis. Banyaknya program acara dan kegandrungan televisi-televisi swasta di Tanah Air dalam memproduksi dan menayangkan acara gosip dan remeh temeh dunia selebriti, sinetron bernuansa mistik-klenik, berita kriminalistik-sadistik, dan program acara lain yang bersifat erotik sangat memerlukan perspektif atau paradigma baru dalam memandangnya. Mata Kuliah Berpikir Kritis dan Kreatif ini, kita berusaha menelaah dan menjelaskan paradigma kritis dan kreatif, dasar-dasar berpikir kritis dan kreatif, sebagai grand teori komunikasi yang mampu membebaskan manusia dari distorsi realitas yang melahirkan bentuk-bentuk ketidakadilan, ketertindasan, dominasi dan dehumanisasi yang terkandung dalam teori, ilmu, praktik komunikasi dan realitas masyarakat itu sendiri. |