line decor
I English I Parents I Teacher I Links I  
line decor
  ��
 
 
 
 
Membandingkan Konsep Pendidikan Karakter Doni Koesoema A dengan Ibnu Miskawaih
14-11-2010
Konsep Doni Koesoema A tentang pendidikan karakter membidik persoalan fundamental struktur antropologis manusia berhadapan dengan kemampuan keterdidikan manusia. Ide, Doni tentang pendidikan karakter telah menjadi bahan kajian Tesis Master seorang mahasiswi dari IAIN SUNAN AMPEL Surabaya yang membandingkannya dengan pemikir besar Islam Ibnu Miskawaih. Intinya, ada persamaan dan perbedaan dari segi penerapan praksi pendidikan karakter itu di lapangan.


Berikut adalah abstrak dari penelitian itu.

Banyaknya peristiwa yang tidak bermoral yang sering melanda negeri ini baik yang dilakukan para pejabat maupun rakyat. Semua itu terjadi karena mulai hilangnya karakter bangsa ini. Seperti yang disinggung dalam bukunya Doni Koesoema A bahwa saat ini sangat diperlukan pendidikan karakter untuk ditumbuhkan kembali pada diri anak bangsa.

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif dengan analisa isi (Content Analisys). Karakter dan akhlak mempunyai arti sama yaitu suatu kehendak yang sudah biasa dan sering dilakukan secara spontan. Maka maksud dan tujuan pendidikan karakter dan pendidikan akhlak semakna dan sejalan, yakni suatu usaha sadar untuk membantu individu mempunyai kehendak untuk berbuat sesuai dengan nilai dan norma (baik dalam agama maupun di masyarakat) serta membiasakan perbuatan tersebut dalam kehidupannya. Dan pendidikan karakter menurut Doni Koesoema A merupakan struktur antropologis yang terarah pada proses pengembangan dalam diri manusia secara terus menerus untuk menyempurnakan dirinya sebagai manusia yang mempunyai keutamaan yakni dengan mengaktualisasikan nilai-nilai keutamaan seperti keuletan, tanggung jawab, kemurahan hati, dan semisalnya.

Hal ini karena Doni Koesoema A menganggap bahwa jiwa manusia bisa dirubah dengan pendidikan, dan ini bisa dilakukan disekolah. Di sekolah tersebut bisa diterapkan lima metode pendidikan karakter yakni mengajarkan pengetahuan tentang nilai, memberikan keteladanan, menentukan prioritas, praksis prioritas dan refleksi. Semua metode itu dilaksanakan dalam setiap momen disekolah, kemudian diaktualisasikan di lingkungan masyarakat supaya mereka bisa mengotrolnya dan juga turut serta mempraktekkan.

Pendidikan karakter atau pendidikan akhlak bagi Ibnu Miskawaih adalah sebuah struktur teologis untuk melakukan keutamaan dengan tanpa berfikir dan pertimbangan, untuk itu maka diperlukan pembiasaan dan latihan dengan cara diberikan pendidikan. Ibnu Miskawaih berpedoman bahwa jiwa bisa dirubah supaya terbentuk akhlak tertentu, untuk itu metode Thoriqun Thob`iyyun, yakni metode mendidik akhlak dengan disesuaikan pada perkembangan lahir-batin anak, perlu diterapkan. Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa pendidikan akhlak itu bertujuan untuk mengamalkan nilai-nilai keutamaan dari hikmah, syaja`ah, `iffah dan `adalah. Saat yang sangat peting untuk pembentukan akhlak tersebut adalah dalam lingkungan keluarga, kemudian dilingkungan masyarakat. Di masyarakat inilah nilai-nilai akhlak harus diaktualisasikan secara bersama-sama (berjama`ah) supaya tercipta kebahagiaan bersama.

Perbedaannya bahwa pendidikan karakter Doni Koesoema A menekankan diterapkan dilingkungan sekolah, sedangkan Ibnu Miskawaih lebih menekankan untuk diterapkan dilingkungan keluarga atau lingkungan rumah. Hal ini berpengaruh pada metode yang digagas keduanya. Dan persamaan dari keduanya adalah bahwa pendidikan karakter itu untuk menghasilkan manusia yang mempunyai keutamaan dan hal ini harus bersama-sama dengan masyarakat dalam mengaktualisasikan pendidikan karakter.

 

Doni Koesoema A sebagai pembawa obor pendidikan karakter mengembangkan pendidikan karakter utuh dan menyeluruh melalui 12 Pilar keutamaan.
Contact Us
Ms. Evy Anggraeny
Hp. 0821-6632-3864
Hp. 08-777-1975-803

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Copyright © www.pendidikankarakter.org 2011 I Terms of Services I F.A.Q I About Us I Contact Us I Services I Advertising I