|
Persoalan mencontek dan budaya katrol nilai, seringkali tidak berkaitan langsung dengan ketidakmampuan individu untuk berperilaku tidak jujur, melainkan ada sebuah struktur dan kultur yang abai terhadap integritas akademik, demikian ujar Doni Koesoema A, direktur Pendidikan Karakter, dalam Konferensi Nasional dan Workshop Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI), di Malang, Minggu (17/10).
Doni juga menegaskan, meskipun pemerintah telah mengeluarkan Buku
|
Pedoman Pengembangan pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, persoalan pendidikan karakter masih berputar dan berkutat pada pendekatan pendidikan karakter yang berbasis kelas,”menumbuhkan kultur sekolah yang mengembangkan integritas akademis terabaikan. Sehingga sekolah kita gagal mendidik anak-anak kita menjadi anak yang cerdas,” lanjut Doni.
Lokakarya yang mengambil tema Peran Pendidikan dalam Pembangunan Karakter Bangsa ini menghadirkan pembicara lain seperti Prof. Dr, Conny Semiawan, Prof.Dr. Frieda Mengunsong, M.Sp.Ed., Clara Aji Suksmo, Phd., Dr. Rose Mini AP, M.Si dan Ibu Ratna Megawangi dari Heritage Foundation.
Budaya katrol nilai yang terjadi dalam lembaga pendidikan kita seringkali bermula bukan dari niatan untuk meningkatkan integritas akademis siswa, melainkan lebih pada rasa takut para pendidik dan lembaga pendidikan berhadapan dengan evaluasi public. “Karena itu, perlu perubahan radikal dalam cara berpikir guru, dan ketegasan pada prinsip pendidikan yang diyakini”, lanjut Doni.
Doni memberikan beberapa solusi alternative untuk pengembangan kultur sekolah, yaitu lembaga pendidikan perlu mengevaluasi kembali tata peraturan dan norma yang tidak mendukung integritas akademis, menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dalam diri siswa, dan lembaga pendidikan perlu mengevaluasi kembali bagaimana mereka mendesain sistem evaluasi dan penilaian yang tidak abai terhadap integritas akademis. |