Teknik Hibridoma
Teknik Hibridoma atau teknik fusi sel adalah suatu teknik dalam bioteknologi modern yang menggabungkan dua sel dari organisme yang sama ataupun berbeda sehingga menghasilkan sel tunggal berupa sel hibrid ( hibridoma ) yang memiliki kombinasi dari sifat kedua sel tersebut. Sel ini bersifat immortal atau abadi, dan akan bekerja secara kontinu. Teknik yang digunakan dalam bioteknologi modern ini pertama kali ditemukan oleh Cesar Milstein, Georges J. F. K ö hler dan Niels Kaj Jerne pada tahun 1975. Oleh karena penemuan mereka tentang teknologi hibridoma , mereka mendapatkan hadiah nobel pada tahun 1984 untuk di bidang kedokteran dan fisiologi.
Salah satu pemanfaatan teknik hibridoma terpenting yaitu untuk pembuatan antibodi monoklonal dalam skala besar. Antibodi merupakan protein yang di produksi dari sel limfosit B atau sel T yang fungsinya untuk melawan setiap anti gen atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh manusia, dan disebut monoklonal karena antibodi ini berasal dari satu tipe sel yaitu sel hibridoma. Antibodi monoklonal dapat mengenali dan mengikat ke antigen yang spesifik. Cara pembuatan antibodi monoklonal dengan teknologi hibridoma yaitu , sel B atau sel T yang mempunyai sifat memproduksi antibodi dijadikan sebagai sumber gen. Sumber gen ini digabungkan dengan sel mieloma atau sel kanker yang mampu membelah diri dengan cepat dan tidak membahayakan manusia. Setelah itu untuk mempercepat fusi sel, ditambahkan fusi gen, suatu zat yang mempercepat terjadinya fusi seperti CSCl++, polietilenglikol (PEG), virus, dan NaNO3. Hasil fusi antara sel limfosit B atau T dengan sel mieloma akan menghasilkan sel hibridoma yang memiliki gen penghasil antibodi seperti induknya (sel B atau T) dan dapat membelah dengan cepat dan kontinu seperti sel mieloma. Sehingga antibodi akan dihasilkan dalam jumlah besar . Selain pembuatan antibodi monoklonal, teknik hibridoma juga dimanfaatkan untuk pemetaan genom manusia dan menyilangkan spesies secara genetik dalam sel eukariotik. (Cindy Ariesta, XII IPA1-05)