Polidaktili
Polidaktili berasal dari bahasa yunani kuno “Polus” (banyak) dan (daktulos) "jari” sehingga polidaktili berarti tumbuhnya jari tambahan sehingga jumlah jari pada tangan atau kaki lebih dari lima, biasanya enam. Faktor penyebabnya antara lain kelainan genetik dan kromosom, keturunan, dan faktor teratogenik (perkembangan sel yang tidak normal selama kehamilan). Polidaktili terjadi pada 1 dari 1.000 kelahiran.
Polidaktili terjadi pada 1 dari 1.000 kelahiran. Polidaktili, disebabkan kelainan kromosom pada waktu pembentukan organ tubuh janin. Ini terjadi pada waktu ibu hamil muda atau semester pertama pembentukan organ tubuh. Kemungkinan ibunya banyak mengonsumsi makanan mengandung bahan pengawet. Atau ada unsur steratogenik yang menyebabkan gangguan pertumbuhan. Kelebihan jumlah jari bukan masalah selain kelainan bentuk tubuh. Namun demikian, sebaiknya diperiksa kondisi jantung dan paru bayi, karena mungkin terjadi multiple anomali.Orang normalnya adalah yang memiliki homozigotik resesif pp.
Pada individu heterozigotik Pp derajat ekspresi gen dominan itu dapat berbeda-beda sehingga lokasi tambahan jari dapat bervariasi. Bila seorang laki-laki polidaktili heterozigotik menikah dengan perempuan normal, maka dalam keturunan kemungkinan timbulnya polidaktili adalah 50% (teori mendel). Ayah polidaktili (heterozigot) Pp x, ibu normal homozigot (pp) maka anaknya polidaktili (heterozigot Pp) 50%, normal (homozigot pp) 50%.
Cara mengatasi polidaktili yaitu dengan dilakukannya operasi “pembuangan” jari yang berlebihan, terutama bila jari tersebut tidak berkembang dan tidak berfungsi normal. Bila jari berlebihan hanya berupa gumpalan daging, biasanya tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, tapi mungkin anak menjadi malu atau minder.Tapi, bila disertai dengan gangguan lainnya, misalnya gigi rusak, kuku tidak terbentuk, kelainan pigmentasi pada retina, kelamin mengecil, atau retardasi mental, maka dapat mengganggu kualitas hidup anak.Untuk itu, operasi dilakukan pada saat anak berumur antara 6 – 18 bulan, atau sebelum dia bersekolah agar tidak mengganggu perkembangan mental anak.
Contohnya kasus Djanitra Agnie Paramesti (Malang, 24/8/2010) yang memiliki 26 jari, 6 jari di masing-masing tangan dan 7 jari di masing-masing kaki. Jari tambahan ini umumnya tidak mengganggu, ada yang hanya menempel pada kulit, ada yang hingga pada tulang namun tidak memiliki sendi. Namun, pada usia 2 bulan, salah satu jari tambahan pada kaki kiri Djanitra membiru. Cara mengatasinya, perlu dilakukan operasi pembuangan jari yang berlebih. (Monica Devi XII IPA I / 17 & Jacqueline XII IPA 2 / 8 )