studentspedia

Konservasi Ex-Situ

Konservasi ex-situ pada dasarnya merupakan salah satu metode pelestarian flora atau fauna dalam bentuk konservasi spesies di luar distribusi alami dari populasi flora atau fauna tersebut. Dengan kata lain, konservasi ex-situ menempatkan flora atau fauna di kawasan yang dikelola oleh manusia. Konservasi ex-situ sangat bermanfaat dalam melindungi biodiversitas, terutama untuk menyelamatkan spesies tertentu dari kepunahan.

Konservasi ex-situ biasanya dianggap sebagai alternatif bila konservasi in-situ sudah tidak memungkinkan, umumnya karena faktor habitat. Dengan konservasi ex-situ, spesies hidup di luar konteks ekologi alaminya, melindunginya di bawah kondisi semi-terisolasi, di mana evolusi alami dan adaptasi spesies tersebut dihentikan sementara atau diubah dengan mengintroduksi spesies pada habitat baru yang tidak alami.

Kelemahan lain dari konservasi ex-situ adalah spesies akan mengalami pengurangan kemampuan adaptasi genetik dan mutasi untuk bertahan bila spesies tersebut dilepaskan ke habitat alami yang selalu berubah. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat dan mengelola konservasi ex-situ juga tentunya tidak sedikit. Pihak yang membuat konservasi ex-situ, harus setidaknya mampu menyesuaikan konservasi ex-situ dengan habitat spesies yang akan dikonservasi, mulai dari iklim, kelembaban, tingkat keasaman (pH) dan faktor lainnya.

Satu-satunya keuntungan dari konservasi ex-situ, adalah manusia dapat dengan jelas memantau dan mengkaji perkembangan spesies yang dikonservasi, sehingga dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi manusia. Banyak bentuk konservasi ex-situ yang dapat dilakukan, diantaranya penyimpanan benih dan tegakan hidup. Untuk konservasi ex-situ konvesional yang juga bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan, antara lain kebun botani, kebun binatang, arboretum, aquarium, kebun plasma nutfah, dan kebun koleksi. (Varian Elbert, XIPA 1 / 27)