studentspedia

Eritroblastosis Fetalis

Eritroblastosis fetalis atau dalam  adalah suatu kelainan berupa hemolisis (pecahnya sel darah merah) pada janin yang terjadi pada bayi yang baru lahir karena perbedaan golongan darah rhesus dengan ibunya. Tahun 1932, Diamond, Blackfan dan Baty melaporkan bahwa fetal anemia yang ditunjukkan dengan jumlah eritroblas yang ada dalam sirkulasi darah menggambarkan sindroma ini.

Pada tahun 1892, Ballantyne membuat kriteria patologi klinik untuk mengakkan diagnosis hidrops fetalis. Diamond dkk. (1932) melaporkan tentang anemia janin yang ditandai oleh sejumlah eritroblas dalam darah berkaitan dengan hidrops fetalis. Pada tahun 1940, Landstainer menemukan faktor Rhesus yang berperan dalam patogenesis kelainan hemolisis pada janin dan bayi. Levin dkk (1941) menegaskan bahwa eritroblas disebabkan oleh isoimunisasi maternal dengan faktor janin yang diwariskan secara paternal. Find (1961) dan freda ( 1963) meneliti tentang tindakan profilaksis maternal yang efektif.

Perbedaan faktor golongan darah rhesus akan mengakibatkan terbentuknya sistem imun (antibodi) ibu sebagai respon terhadap sel darah bayi yang mengadung antigen. Eritroblastosis fetalis akan terjadi apabila bayi bergolongan darah rhesus positif sedangkan ibu bergolongan darah rhesus negatif. Maka akan terjadi kompilasi pada bayi tersebut. Kompilasi ini menyebabkan rusaknya eritrosit (sel darah merah) pada bayi sehingga bisa berujung pada kematian.
Eritroblastosis fetalis terjadi apabila seorang laki-laki yang bergolongan darah rhesus positif menikah dengan wanita yang bergolongan darah rhesus negatif, maka anak mereka kemungkinan besar bergolongan darah rhesus positif karena faktor rhesus bersifat dominan secera genetika.

Kasus Eritroblastosis fetalis biasanya terjadi pada kehamilan anak kedua dan seterusnya jika semua anak rhesusnya positif karena kehamilan pertama darah janin tidak banyak yang masuk ke dalam sirkulasi darah ibu sehingga tidak terbentuk antibodi pada tubuhnya dan pada saat lahir, baru banyak darah janin yang masuk ke sirkulasi darah ibu, tetapi janin sudah terlahir, jadi tidak menimbulkan efek. Namun, antibodi ini akan menghilang setelah 5 tahun.

Orang Asia umumnya bergolongan darah rhesus positif. Riset menyatakan bahwa hanya 0,5% orang asia yang bergolongan darah rhesus negatif. Sementara, orang amerika, eropa, dan australia (bule) cukup banyak yang bergolongan rhesus negatif (15-18%). Orang asia biasanya menikah dengan orang bule, apalagi di daerah yang sering didatangi turis seperti bali, lombok, dll. Bisa saja orang indonesia di bali tersebut menikah dengan orang bule yang datang sebagai turis tanpa memperhatikan golongan darah rhesus mereka. Alhasil, ada kemungkinan anak yang dikandung terkenan eritroblastosis fetalis. (Leonard – XI IPA 2/16)