discussion on diversity

Pendidikan tidak dapat lepas dari semangat keragaman. Dalam pendidikan istilah kemajemukan dan keragaman penting, karena menumbuhkan prinsip kerja sama bagi para peserta didik.
Pernyataan ini dikemukakan pemerhati pendidikan dari Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo Sitepu dalam sebuah seminar tentang keragaman di Jakarta beberapa waktu lalu. Bu Henny Supolo, dalam foto di atas adalah yang memakai baju biru (tanpa jilbab) yang berdiri sebelah kiri saya. Beliau adalah penggerak semangat keragaman dan kebangsaan.

“Pembiasaan kerja sama dalam tim di dalam lingkup pendidikan salah satunya terbentuk bukan hanya karena toleransi, akan tetapi karena adanya keragaman. Kalau kita mau lihat lebih jauh lagi keragaman itu tidak hanya dalam suku, agama, dan antar golongan, tetapi dalam berbagai hal,” kata Henny.

Henny menjelaskan bahwa keragaman penting karena ada rasa ingin tahu dari peserta didik yang satu terhadap lainnya, dan motivasi ingin tahu merupakan awal sukses dari pengetahuan.

“Prinsip-prinsip keragaman dalam pendidikan adalah demokratis dan setara, kritis dan terbuka, kebhinekaan sebagai sumber belajar, semua dilibatkan dan ikut memiliki kegiatan, bebas pengutamaan sebelum akhirnya bermuara pada pembiasaan bekerja sama,” Henny melanjutkan.
Keragaman menitik beratkan pada perbedaan, menurut dia perbedaan itu memiliki makna yang indah. Perbedaan sesuai dengan budaya Indonesia yang beragam, meski beragam tetapi tetap satu tujuan," Kita harus menghargai keragaman itu karena hakekatnya indah," kata Henny.
Henny menyebut bahwa berdasar temuan yayasan yang dia berkecimpung di dalamnya, Yayasan Cahaya Guru menyebut bahwa masih banyak sekolah-sekolah berbasis negeri yang terlalu mengutamakan kepercayaan tertentu. 

“Kita bisa melihat di sekolah secara tidak sadar saat kita mengutamakan agama tertentu, nantinya dikhawatirkan akan kelihatan ada anak-anak yang beragama lain,  akan terlihat menyendiri,” lanjut Henny.

Henny Supolo mengungkapkan hasil temuannya terkait keberagaman di sekolah ternyata di beberapa sekolah masih ada yang tak menerapkan makna dari Bhinneka Tunggal Ika.

"Kami menemukan di beberapa sekolah makin sedikit siswa berbeda agama dan kepercayaan dan mengutamakan agama mayoritas terlihat dari seragam sekolah, pengisian rutinitas serta simbol-simbol yang digunakan di wilayah sekolah,” lanjut Henny.

Selain itu, menurut Henny adanya sekolah yang enggan melaksanakan upacara dan menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Tentu saja hal ini menjadi keprihatinan sendiri bagi para pemerhati pendidikan, apalagi sekolah itu letaknya tidak jauh dari kediaman Presiden SBY di Cikeas, Jawa Barat.

"Kami menemukan penolakan upacara dan lagu Indonesia Raya di sekolah hanya 15 menit di sekolah kawasan Cikeas. Buat apa katanya karena hormat itu kepada Tuhan bukan Indonesia Raya. Ini kan memprihatinkan," Henny mengakhiri penjelasannya.

Dia menganggap tindakan sekolah tersebut menjadi salah satu bukti masih adanya pelaku pendidikan tidak mengedepankan keberagaman.