Tomcat

Doni Koesoema A.

Pendidikan karakter mengandaikan adanya sikap reflektif dan tanggap atas kenyataan hidup sehari-hari. Itulah sebenarnya yang menjadi salah satu kriteria untuk menilai apakah praksis pendidikan karakter di sekolah itu sungguh baik, tepat atau tidak.

Sikap reflektif ini adalah kemampuan seseorang dalam memahami dan mengartikan apa yang terjadi dalam lingkungan, menemukan makna, serta mengambil keputusan atas makna yang

terjadi dalam lingkungan, menemukan makna, serta mengambil keputusan atas makna yang telah ia pahami tersebut. Refleksi merupakan sikap seorang pembelajar yang otentik. Tidak perlu dipermasalahkan, apakah sikap reflektif itu muncul dari diri sendiri, atau lewat perjumpaan dengan orang lain, ataupun melalui dorongan dan inspirasi dari orang dewasa, seperti guru, atau personel sekolah lain. Yang perlu diperhatikan di sini adalah penumbuhan sikap reflektif itu sendiri.

Sedangkan sikap tanggap adalah sebuah reaksi yang dilakukan setelah seseorang memahami kenyataan dan kejadian, merefleksikannya dan ambil keputusan atas peristiwa tersebut.

Dengan pandangan ini, kita bisa belajar dari fenomen tomcat.

Di banyak tempat, serangga tomcat telah menyerang warga. Bahkan, bahaya serangga tomcat pun sering disosialisasikan melalui media. Fenomen tomcat bisa menjadi inspirasi bagi para pendidik dalam rangka menanamkan semangat pembentukan karakter secara integral. Bagaimana caranya?

Sekolah bisa mengambil peristiwa penyebaran serangga tomcat sebagai titik awal pembelajaran yang kontekstual bagi para siswa. Siswa belajar menganalisis, mengapa serangga tomcat menyerang warga, bagaimana mengatasi bila terjadi serangan tomcat, serta mempelajari apa sebenarnya fungsi tomcat dalam keseluruhan dinamika kehidupan manusia.

Sebuah sekolah di Surabaya, secara khusus mengadakan edukasi tomcat. Siswa diajak untuk menggambar serangga tersebut, mereka diajak untuk memahami apa itu serangga tomcat dan bagaimana mengatasinya. Siswa diajak untuk menulis artikel tentang tomcat.

Sikap tanggap dan reflektif seperti ini bisa menjadi contoh bagi kita, agar peristiwa kehidupan sehari-hari benar-benar menjadi bahan yang nyata bagi pembentukan karakter anak-anak sebagai pembelajar. Di sinilah para guru dan pendidik perlu memiliki kepekaan, ketajaman refleksi, dan perhatian pada kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat belajar secara otentik, sekaligus mengerti dan memahami sebuah peristiwa dalam rangka keseluruhan kehidupan umat manusia.

Pendidikan karakter sebenarnya sesederhana itu. Sayangnya, yang sederhana ini justru seringkali tersembunyi dan tidak disadari oleh para pendidik.

Jakarta, 2 April 2012

Foto:beritadaerah