Lokakarya Guru di Unika Soegijapranata : Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah

Semarang, 17 Juli 2013

Pak Doni mendampingi peserta saat berbagi pengalaman tentang praksis pengembangan kultur kedisiplinan dan tanggungjawab di masing-masing sekolah

Bagaimana menerapkan pendidikan karkater di tingkat sekolah menengah atas? Itulah yang ingin dijawab para peserta yang mengikuti lokakarya berjudul Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah, yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, 17 Juli 2013.

Para peserta terdiri dari para guru dan perwakilan sekolah, baik dari sekolah negeri maupun sekolah swasta di Semarang dan Jawa Tengah.

Pak Doni, dalam presentasinya menjelaskan tentang bagaimana sekolah dapat mengembangkan budaya sekolah yang memiliki jiwa pendidikan karakter, terutama dalam rangka menumbuhkan kedisiplinan, tanggungjawab dan keunggulan akademis melalui desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah, terutama merefleksi dan mengevaluasi bagaimana sekolah-sekolah selama ini telah mendesain dan melaksanakan aturan berupa tata tertib siswa, terkait dengan siswa yang tidak hadir di sekolah, karena sakit, ijin, alpa atau terlambat.

"Pembentukan budaya memerlukan aturan-aturan dan norma sosial yang didesain agar tujuan pembelajaran dan dinamika belajar sekolah terjadi," ujar pengembangan pendidikan karakter utuh dan menyeluruh, Doni Koesoema A. "Adanya impunitas, alias pelanggaran terhadap kesepakatan bersama, standard ganda dalam pelaksanaan, dan desain peraturan yang inkonsisten dengan tujuan utama seluruh dinamika pembelajaran di sekolah, merupakan banyak alasan mengapa kultur sekolah kita tidak terbentuk menjadi semakin baik."

Dalam pelatihan ini, para guru diminta untuk berbagi tentang pemahaman dan praksis peraturan tentang tata tertib di sekolah mereka masing-masing, lalu membagikannya kepada rekan-rekan lain di sidang pleno. Setelah pemaparan peserta, Pak Doni mengajak guru untuk merenungkan dan merefleksikan apakah peraturan dan praksisnya di lapangan selama ini konsisten dengan tujuan diadakannya peraturan tersebut.

Salah satu pertanyaan yang dijawab para guru dengan berbagai macam jawaban mulai dari yang pro sampai kontra adalah seputar sanksi bagi siswa yang bolos atau alpa. "Apakah siswa yang berdasarkan peraturan yang kita buat masuk dalam kualifikasi alpa, alias membolos, masih bisa memiliki hak untuk mengikuti ulangan susulan?"

Para peserta dengan antusias menjawab, ada yang selama ini tetap memperbolehkan, namun ada sekolah lain yang tidak memperbolehkan. Mengapa pertanyaan ini penting? "Kira-kira pendapat Bapak Ibu, anak-anak yang sudah bolos, melanggar peraturan, tidak disiplin, tapi dia tetap diberi kesempatan ulangan susulan, dan dia tetap dapat nilai seperti teman-teman yang lain, bahkan mungkin lebih baik, apakah aturan seperti ini adil? Apakah mendidik? Kebanyakan sekolah membuat peraturan yang tidak adil seperti ini, dengan memberikan ulangan susulan.

Budaya di sekolah terbentuk karena ada aturan bersama yang dibuat, yang secara pedagogis dapat diterima dan dibenarkan dengan akal sehat, serta memenuhi unsur keadilan dalam konteks kehidupan bersama.