Tubuhku adalah Anugerahku

Evy Anggraeny Dhewi S.Si

Tuhan menciptakan manusia sempurna adanya. Tidak ada satu manusia pun yang minta dilahirkan dengan ketidaksempurnaan. Seandainya ada manusia yang terlahir tidak sempurna, misalnya ia memiliki kekurangan ataupun kelebihan organ tubuh, ataupun kelainan secara psikis, maka itu bukanlah kehendaknya. Seluruh organ tubuh yang kita miliki adalah anugerah terindah yang kita dapatkan dari Sang Pencipta. Sudah patut dan selayaknyalah kita bersyukur dan merawat anugerah ini dengan baik. Merawat

tubuh juga merupakan penerapan dari salah satu pilar Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh yaitu, penghargaan terhadap tubuh.

Teringat  akan jaman sekolah menengah pertama (SMP) dulu, ada salah satu teman saya yang memiliki kelebihan organ tubuh yaitu kelebihan ibu jari pada salah satu tanganya. Bagi orang lain yang tidak mengalami hal ini, mungkin akan menjadi aib bagi dirinya atau merupakan malu besar karena kelebihan yang dimilki. Tetapi saya tidak melihat hal itu pada diri teman saya. Yang saya lihat adalah ketegaran, kebesaran jiwa serta kepercayaan diri yang baik pada dirinya serta memiliki prestasi akademik yang lebih baik dari teman-teman yang normal. Hal ini pastilah didukung oleh orang-orang sekitar dirinya yang sangat memperhatikan serta mencintainya apa adanya, dengan segala kelebihan yang dimilikinya. Dengan kondisi seperti itu dia bisa menjadi contoh bagi teman-teman yang secara de facto memiliki organ tubuh yang sempurna tetapi tidak memiiki sifat yang menghargai terhadap tubuhnya yang merupakan anugerah dari Sang Pencipta. Saat saya menjadi seorang guru, saya menjadi lebih mengerti peranan orang-orang di sekitar diri teman saya tersebut yang tidak lain adalah orangtua, saudara, guru dan sahabat-sahabatnya.

Mengapa saya memunculkan kembali kenangan tersebut, karena saya juga teringat cerita teman saya yang mengajar di salah satu sekolah swasta di Jakarta Barat. Ia bercerita pernah salah satu muridnya (kita sebut saja murid itu adalah Amir) datang untuk mengeluhkan perlakuan teman-teman yang tidak baik terhadap dirinya. Amir bercerita bahwa sering temannya memperolok dirinya saat waktu istirahat dengan julukan si pincang karena ia memiliki salah satu kaki yang mengecil sebelah. Tidak hanya sekali atau dua kali tetapi sudah terlalu sering hal ini terjadi sehingga mengakibatkan Amir enggan untuk masuk sekolah. Sampai-sampai ibunya Amir datang ke sekolah untuk bercerita hal tersebut kepada teman saya tadi selaku wali kelasnya.

Pada mulanya, teman saya tersebut sudah mengetahui kekurangan yang dimiliki oleh Amir. Ia pernah memberikan peneguhan serta motivasi pada Amir. Setelah kejadian tersebut teman saya tadi lebih itensif untuk mendampingi Amir dalam memberikan peneguhan, semangat serta motivasi untuk tetap mau berjuang dengan tetap hadir terus di sekolah walaupun ada temannya yang mengolok-olok. Cara ini sungguh berhasil, sehingga Amir mau selalu hadir di sekolah setiap harinya. Terlebih lagi setelah wali kelasnya memberikan pandangan baru bagi teman-teman Amir. Teman saya itu  memberikan penjelasan bahwa kekurangan yang dimiliki oleh seseorang,  bukan berarti kita boleh berbuat sesuka hati mengejek atau mengolok-ngolok. Belum tentu kita yang memiliki organ tubuh yang lengkap atau sempurna lebih baik dari Amir. Amir adalah sosok remaja tangguh. Ia tanpa malu bersekolah dengan kekurangan yang dimiliki. Ia juga lebih menghargai tubuhnya dengan tidak memanjakan kakinya di atas kursi roda. Ia tetap berjalan dengan kedua kakinya dan berusaha untuk berjalan tegap walaupun itu sangat sulit baginya.

Amir tetap menggunakan anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya.  Mungkin, anugerah seperti ini bagi orang lain merupakan aib, tetapi ia tidak menganggapnya demikian. Ia bahkan menggunakan kakinya yang cacat sebagaimana fungsinya yaitu untuk berjalan. Bagi saya itu sungguh luar biasa dan patut menjadi contoh bagi kita yang memiliki organ tubuh yang lengkap atau sempurna. Terkadang kita tidak menghargai organ-organ tertentu dengan memperlakukan atau merawatnya dengan tidak baik. Cara menghargai yang dilakukan oleh Amir tanpa disadari sudah merupakan penerapan pilar paling utama dari 12 pilar Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh yang dikembangkan oleh Doni Koesoema A., yaitu penghargaan terhadap tubuh, terutama dalam hal fisik.

Penghargaan terhadap tubuh secara psikologis dan emosional dapat dikembangkan dengan memperlakukan apa yang kita miliki dengan baik. Demikian juga ketika kita menempatkannya sesuai dengan fungsinya.  Kita pun tidak boleh mengeksploitasi organ tersebut untuk tujuan yang tidak baik atau hanya sekedar pamer dengan orang lain.

Mengapa saya mengatakan demikian, karena beberapa trend dalam pergaulan anak muda sekarang ini adalah kecenderungan untuk ke arah demikian. Seperti yang saya dengar pada suatu pertemuan dengan orangtua murid, bahwa ada kecenderungan gaya pacaran anak remaja zaman sekarang yang berlebihan, misalnya dengan saling duduk berdempetan, sehingga saling bersentuhan antara  sepasang kekasih (sebut saja Anisa dan Anto). Ada juga yang meniru cara berpakaian yang sangat minim sehingga memungkinkan tindakan yang tidak diinginkan, bahkan ada yang sangat keterlaluan sampai memperlihatkan bagian tubuhnya yang terlarang kepada sang pacar melalui foto, seperti yang dilakukan oleh seorang remaja putri (sebut saja Susi). Sesungguhnya ada apa dalam pikiran anak remaja zaman sekarang?

Mengapa hal itu dapat terjadi? Mungkin yang lain akan berkata, koq bisa sih? Pertanyaan itu yang selalu melintas dalam pikiran saya. Saya berusaha untuk mencari jawaban dari permasalahan tersebut dengan cara mencoba menjelaskan lebih baik lagi saat pembelajaran di kelas, terutama pada saat kami membahas materi yang berhubungan dengan organ tubuh.

Saya juga berusaha untuk menghubungkannya dengan penerapan pilar fundamental, yaitu penghargaan terhadap tubuh, yang bersentuhan langsung dengan materi pembahasan. Memang belum terlihat secara nyata atau secara langsung perubahan yang terjadi. Namun paling tidak mulai ada perubahan-perubaan kecil yang terjadi dari cara pergaulan yang saya amati di antara para murid.

Saya menekankan pada mereka bahwa tubuh yang kita miliki adalah anugerah yang terindah yang diberikan oleh Tuhan pada kita, sehingga akan lebih indah bila kita merawat serta menjaganya dengan baik dan mengggunakan organ tubuh sesuai dengan fungsinya secarag benar. Dengan demikian, kita akan menjadi manusia yang tahu berterimakasih atas pemberian Sang Pencipta atas diri kita. Kejadian seperti Amir yang tegar dapat dijadikan panutan. Sedangkan, kisah Anto-Anisa dan Susi tidak akan terjadi lagi di kalangan remaja kita di masa mendatang.

Evy Anggraeny Dhewi S.Si. Penulis adalah Guru SMA Regina Pacis, Jakarta.