Rumah (Kaca) Pendidikan

Doni Koesoema A

CCTV diterapkan di sekolah untuk mengontrol Ujian Nasional

Kamis, 14 November 2013 - 11:55 WIB

“Pegawai Sering Bolos, Puskemas di Pontianak Dilengkapi CCTV (SH, 11/11). Sekolah di Jakarta Barat akan melengkapi sekolah dengan peralatan yang sama untuk mengatasi perilaku menyimpang. Pendidikan kita sudah seperti rumah kaca.
 
Sistem pengawasan, penjagaan, dan supervisi ada di mana-mana. Pendidikan yang menumbuhkan kebebasan dan tanggung jawab tidak terjadi. Kaca-kaca mesti dihilangkan agar pendidikan menjadi rumah yang ramah.

Selalu ada dua tegangan yang tarik-menarik dalam dunia pendidikan, yaitu antara kebebasan dan kepatuhan.

Kebebasan yang terlalu liar dan tanpa batas bukanlah ciri hakiki pendidikan. Namun, ketaatan buta pada peraturan yang menyingkirkan dimensi kebebasan merupakan musuh pendidikan. Oleh karena itu, belajar mendesain kebebasan yang bertanggung jawab merupakan tantangan besar bagi pendidikan di zaman ini.

Kebebasan adalah dasar pertumbuhan, bukan hanya pertumbuhan diri sebagai individu, melainkan juga sebagai cara mengukur sejauh mana individu dapat bertanggung jawab. Tanpa adanya kebebasan, pendidikan sudah rusak dari dasarnya. Potensi pertumbuhan sudah terpangkas dari akarnya.

Kebijakan pendidikan kita, baik di tingkat nasional maupun lokal (sekolah), memiliki kecenderungan pada penguatan sistem kontrol, pengawasan, dan disiplin.

Berbagai macam aturan dapat kita temukan dalam kebijakan pendidikan yang memasung kebebasan, mulai dari kebijakan Ujian Nasional, tatatertib sekolah, sampai potongan rambut, warna, bentuk, dan model baju yang harus dipakai siswa.

Sistem kontrol dan penyeliaan tentu dibutuhkan dalam pendidikan agar kita dapat mengukur, mengevaluasi, dan mengembangkan pendidikan agar menjadi lebih baik. Sayangnya, sistem kontrol dan supervisi pendidikan sekarang semakin gelojoh, bahkan menjadi semakin irasional.

Di sebuah sekolah negeri di Jakarta Barat, CCTV dipasang di setiap lorong kelas dan ruangan. Semuanya terkontrol terpusat di ruang Kepala Sekolah dan terhubung langsung dengan suku dinas setempat (SH, 11/11).

Panoptik Bentham

Sekolah sudah ibarat seperti penjara ketika setiap perilaku siswa, guru, dan karyawan harus dikontrol dan diawasi. Situasi ini mengingatkan kita akan ide Jeremy Bentham mengenai panopticon pada abad ke-18. Ia menggagas model instalasi penjara yang memungkinkan seseorang dapat mengawasi kegiatan, perilaku, dan tingkah laku orang lain tanpa dirinya terlihat.

Dengan memasang berbagai macam CCTV, sekolah sudah menjadi rumah kaca. Ini seperti panopticon yang dipergunakan untuk menguasai sikap dan perilaku orang lain. Bagi Bentham, ide panoptikum ini bisa ditarik lebih lebar, bukan sekadar menjaga perilaku fisik, melainkan juga menguasai pemikiran, pengetahuan, dan pemahaman individu.

Asumsi di balik ide panopticon adalah individu tidak dapat dipercaya serta perilakunya perlu dikontrol, dikuasai dan diarahkan agar tertib.

Ini jelas sangat bertolak belakangan dengan fundamental pendidikan yang mengutamakan pertumbuhan manusiawi, pengembangan ekspresi kebebasan yang bertanggung jawab, serta kepercayaan dasar satu sama lain yang mestinya terjadi dalam dunia pendidikan.

Pendidikan yang berkualitas mengandaikan ada kepercayaan atas individu sebagai pribadi yang mampu berbuat, bertindak, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya setelah mempertimbangkan berbagai macam informasi dan pengetahuan yang relevan.

Pendidikan sejati mestinya mewadahi pertumbuhan individu, memfasilitasi pengetahuan, keterampilan, dan menginformasikan yang dibutuhkan agar individu dapat mengambil keputusan secara baik dan bijak. Pendidikan seperti ini mengandaikan dihargainya kebebasan individu yang diletakkan dalam konteks kehidupan bersama.

Memasang berbagai macam CCTV di lingkungan pendidikan sesungguhnya bertentangan dengan semangat pendidikan yang mengutamakan kepercayaan, relasi dewasa antarindividu, serta pembangunan kultur manusiawi yang terwujud dalam kedewasaan relasi antarindividu, baik sebagai pribadi maupun sebagai profesional.

Pemasangan CCTV pada puskesmas di Pontianak didasarkan pada kenyataan bahwa banyak karyawan yang sering bolos. CCTV sesungguhnya bukan solusi karena persoalannya bukan pada CCTV, melainkan pada pengembangan kapasitas institusional puskesmas, penciptaan struktur dan kultur kerja yang baik, serta pengembangan komunikasi, kepercayaan, dan kesungguhan sikap dalam pelayanan.

Pemasangan CCTV di sekolah-sekolah dilandasi pemikiran untuk mengontrol, menguasai, dan memeriksa kebebasan serta perilaku individu yang dianggap selalu menyimpang. Tidak ada kepercayaan, komunikasi, serta interaksi yang dewasa dan penuh tanggung jawab.

Sekolah yang memasang CCTV gagal memaknai arti kebebasan dan tanggung jawab dalam lingkungan pendidikan. Mereka juga gagal membangun dan mengembangkan relasi manusiawi yang berdasarkan kemerdekaan, kebebasan, serta tanggung jawab yang berlaku dalam lingkup pergaulan antarmanusia.

Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter, dalam arti pembentukan nilai-nilai yang tertanam mendalam justru terjadi ketika ada otonomi. Ini berarti, ketika seorang individu sungguh memahami dan menghayati nilai-nilai yang baik, ia akan melakukannya juga di saat tidak ada yang mengawasi.

Pengawasan dan kontrol jelas bertentangan dengan otonomi. Sikap dan tindakan yang selalu dilakukan karena ada pengawasan dari luar (heteronomi) menunjukkan kedangkalan pemahaman dan penghayatan nilai, ilmu, dan pengetahuan.

Dalam sekolah yang memakaia panopticon, siswa dan individu di sekolah itu akan terlihat baik dan taat karena ada yang mengawasi. Tidak ada jaminan saat lepas dari peralatan kontrol dan pengawasan mereka akan konsisten. Ada kecenderungan, ketika lepas dari pengawasan, mereka jatuh pada euforia kebebasan sehingga terjerumus pada tindakan yang tidak terkendali.

Pendidikan tidak akan terjadi ketika kebebasan dinafikkan dan tanggung jawab tidak diberi tempat. Gelojoh untuk mengawasi mesti diganti dengan kesediaan untuk berkomunikasi, terbuka, dewasa, serta pembangunan lingkungan pendidikan yang lebih manusiawi.

Otonomi harus diberikan karena inilah syarat pertumbuhan individu yang dewasa. Sekolah rumah kaca, panoptikum modern, dan penjara kebebasan mestinya segera dihilangkan dari lingkungan pendidikan kita. Jika tidak, sekolah tidak akan menjadi rumah pendidikan yang ramah.

*Penulis adalah Pemerhati Pendidikan

Sumber : Sinar Harapan