Bermoral dan Berbudaya melalui Pendidikan Karakter

Nursanti Arsamid, S.Pd, M.Pd.

Perkembangan kehidupan yang terjadi saat ini, pelan tapi pasti menjadikan manusia seolah terkotak-kotakkan. Perubahan ini, lambat laun mengantarkan kita pada tingginya rasa individualitas, terkikisnya nilai-nilai moral secara perlahan serta ambisi untuk menonjolkan keegoannya sebagai manusia berani. Semua ini menyebabkan kita lupa bahwa sesungguhnya manusia tak dapat hidup tanpa peran orang lain.

Kondisi ini pulalah yang saat ini menghinggapi anak didik kita. Anak didik sebagai objek dari pelaksanaan pendidikan, telah mulai menunjukkan kondisi ini. Dengan dalih ingin dikatakan sebagai manusia yang mengikuti perkembangan zaman, etika dan sopan santunpun berani di “tabrak”. Ujung-ujungnya, anak didik mulai bertindak lebih berani. Guru yang tidak disukai pun berani didemo.

Kebiasaan mengemukakan pendapat yang biasanya diajarkan dalam salah satu mata pelajaran pun, dianggap sebagai cara yang jitu untuk mengeritik gurunya. Mengeritik apa saja yang tidak disukai ala mereka, tanpa pernah merasa bersalah atau merasa sikapnya itu tidak benar. Nonsen katanya! Ini zaman reformasi, setiap orang bebas mengemukakan pendapat. Itulah dalih untuk membenarkan sikapnya. Saya jadi teringat pada sebuah syair lagu :

Kita bisa pandai menulis dan membaca karena siapa ?
Kita bisa tahu beraneka bidang ilmu dari siapa ?
Tentu kita semua sepakat dengan satu jawaban : “dari guru”.

Melihat kondisi demikian, tentu kita sangat mendukung sekali adanya upaya untuk mengembangkan pendidikan berkarakter di sekolah-sekolah. Diharapkan dengan pendidikan karakter anak didik yang memiliki etika akan tetap ada, sehingga tercipta kembali generasi yang bermoral dan bertanggung jawab serta mampu menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya.

Doni Koesoema (2007) mengungkapkan secara singkat, bahwa pendidikan karakter diartikan sebagai sebuah bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dan menghayati  kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain. Pendidikan karakter, bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan.

Mengembangkan pendidikan karakter di sekolah, adalah lebih diutamakan pada bagaimana menanamkan nilai-nilai tertentu pada diri anak didik. Nilai-nilai yang dimaksud, adalah yang berguna bagi pengembangan pribadinya sebagai makhluk individual sekaligus sebagai makhluk sosial dalam lingkungan sekolah.

Pendidikan karakter di sekolah secara sederhana bisa didefinisikan sebagai, “pemahaman, perawatan, dan pelaksanaan keutamaan (Practice of virtue). Olehnya itu, pendidikan karakter di sekolah mengacu pada proses penanaman nilai berupa pemahaman-pemahaman, tata cara merawat dan menghidupkan nilai-nilai itu, serta bagaimana seorang siswa memiliki kesempatan untuk dapat melatihkan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Para insan pendidik seperti guru, orang tua, staf sekolah, dan masyarakat diharapkan perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk pedoman prilaku, pengayaan nilai individu dengan cara menjadi figur keteladanan bagi anak didik serta mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan dan keamanan yang dapat membantu suasana pengembangan diri individu secara keseluruhan dari segi teknis, intelektual, psikologis, moral, sosial, estetis dan religius.

Pendidikan karakter tidak semata-mata bersifat individual, melainkan juga memiliki dimensi sosial struktural. Meskipun pada gilirannya kriteria penentu adalah nilai-nilai kebebasan individual yang bersifat personal. Pendidikan karakter yang berkaitan dengan dimensi sosial struktural, lebih melihat bagaimana menciptakan sebuah sistem sosial yang kondusif bagi pertumbuhan individu. Dalam konteks inilah, kita bisa meletakkan pendidikan moral dalam kerangka pendidikan karakter. Pendidikan moral itu sendiri merupakan pondasi bagi sebuah pendidikan karakter.

Pendidikan karakter, lebih mengutamakan pertumbuhan moral individu. Penanaman nilai-nilai dalam diri siswa dan pembaharuan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu merupakan dua wajah pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan. Anak didik sebagai individu jika memiliki moral yang baik tentu akan melahirkan kepribadian yang luar biasa, sikap dan perilaku yang dilakoni dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cermin dari kepribadian dirinya. Berikutnya tentulah akan memunculkan anak didik yang bermoral dan berbudaya diatas kebebasannya sebagai individu.

Terlepas dari apa yang diuraikan di atas, semua terpulang pada guru sebagai motivator dan penggerak di lapangan. Mampukah setiap guru menyematkan pendidikan karakter pada anak didik?

1) Artikel ini diikutsertakan dalam lomba penulisan artikel pendidikan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2010.
2) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan.

Sumber: Kendari News.Com